NILAI PERSAHABATAN

Oleh: Naura Kalila Adiba Tanadi (Sisw Kelas Menulis IWEC)

 

            Di pagi hari, di hari Senin, Fani bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia bergegas mandi lalu ia mengenakan baju seragam yang sudah disiapkannya tadi malam. Setelah itu ia sarapan dengan Bunda dan kakaknya. Kakaknya sedang sangat tergesa-gesa karena kakaknya hari ini masuk kuliah pagi pukul delapan, sedangkan ia masih harus mengantar Fani sekolah.

            “Fani, hari ini Kakak masuk kuliah pagi, jadi kamu jangan lama-lama, ya. Nanti Kakak terlambat masuk kuliah,” kata Kania, kakak Fani.

            “Baik, Kak! Ini aku sudah siap kok,” kata Fani, sambil sedikit berlari mendekati bundanya dan mencium tangannya.  Setelah itu ia naik ke atas sepeda motor kakaknya dan segera berangkat ke sekolah.

            Di sepanjang perjalanan lalu lintasnya lancar, sehingga Fani sampai tepat waktu di sekolah. Setelah berpamitan dengan kakaknya, Fani masuk ke gerbang sekolah dan berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, ia bertemu dengan temannya yang bernama Laila dan Aila. Laila dan Aila adalah sahabat Fani dari kelas tiga SD. Mereka bersahabat karena nilai mereka selalu paling tinggi dan mereka suka belajar bersama.       Kebetulan hari ini ada ulangan matematika. Fani pun bertanya kepada Aila dan Laila, “Aila, Laila hari ini kan, kita ulangan matematika, apakah kalian sudah belajar?”

           “Sudah, aku sudah belajar kemarin,” kata Aila.

            “Aku sih tidak belajar-belajar amat. Matematika kan gampang!” jawab Laila.

            “Ah, benar! Karena kamu sudah mengerti, boleh tidak ajarkan aku sebentar? Aku masih belum paham beberapa rumus,” kata Fani.

            Laila setuju. Mereka pun duduk di kursi, mengulang pelajaran matematika kembali.

Tidak terasa, bel berbunyi. Guru matematika mereka, Bu Siska masuk ke kelas sambil membawa setumpuk kertas ulangan. Melihat itu semua anak tegang. Tanpa banyak bicara, Bu Siska segera membagikan kertas soal ulangan tersebut ke murid-muridnya.

            Ketika Fani melihat soal-soal matematika, ia sangat kaget, tak terbayang soal-soal yang diberikan sedikit sulit. Ada beberapa soal yang ia tidak mengerti. Fani berusaha mengerjakan soal tersebut, tapi ia tidak yakin nilainya akan bagus. Dua jam berlalu, waktu sudah habis, kertas ulangan pun dikumpulkan.

            Setelah ulangan Fani mendekati Aila dan Laila, “Tadi ulangannya susah sekali ya,” kata Fani kepada Aila dan Laila.

            “Iya aku juga merasakan hal yang sama, Fan,” balas Aila.

            “Ah, menurut aku biasa aja,” kata Laila dengan nada acuh. Meski ia berkata begitu, sebenarnya ia takut juga mendapat nilai jelek. Ia berkata seperti itu hanya agar teman-temannya memujinya. Sementara Fani dan Aila masih tampak tegang. Mereka takut kalau nilai mereka jelek. Fani pun mendekati Bu Siska yang sedang merapikan kertas-kertas soal, lalu Fani bertanya.

            “Bu, kapan hasil ulangannya dibagikan?” tanya Fani, dengan cemas.

            “Hasil ulangan akan dibagikan minggu depan ya,” kata Bu Siska, sambil bangkit dari duduknya, tersenyum kepada Fani, lalu pergi meninggalkan kelas.

            Sementara itu Fani merasa sedikit lega karena hasil ulangannya baru dibagikan minggu depan, namun rasa cemas juga masih ada, khawatir jika hasil ulangannya jelek, mengingat betapa sulitnya soal matematika tadi.

            Fani kemudian kembali ke tempat duduk Aila dan Laila. Ia mau menyampaikan kapan hasil ulangan dibagikan kepada kedua sahabatnya itu. Belum sempat ia berbicara, Aila sudah bertanya lebih dulu.

            “Jadi, bagaimana? Kapan hasil ulangan dibagikan?” tanya Aila kepada Fani.

            “Hasil ulangannya baru dibagikan minggu depan,” jawab Fani.

            “Yah, padahal aku penasaran dapat nilai berapa,” keluh Laila.

            “Ya, deh, yang nilainya pasti bagus,” canda Aila.

            Laila hanya tertawa mendengar candaan temannya.

***

            Tepat seminggu berlalu, hasil ulangan matematika dibagikan oleh Bu Siska. Murid-murid ada yang senang karena hasil ulanganya bagus namun ada juga yang sedih karena hasil ulangannya kurang memuaskan dan harus remedial.

            Fani sedang menunggu hasil ulangannya dibagikan. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan cemas. Ia takut kalau hasil ulangan matematikanya jelek. Aila dan Laila juga masih menunggu hasil ulangan mereka. Aila terlihat ketakutan dan cemas, sedangkan Laila terlihat santai dan bergaya sombong. Lalu Aila dan Laila mendengar nama suara mereka dipanggil oleh Ibu Siska. Rupanya mereka ingin diberi tahu kalau nilai mereka yang paling tinggi di kelas.

            Fani tidak terlihat pucat lagi. Wajahnya yang tadi terlihat amat pucat berubah menjadi ceria. Aila juga tidak cemas lagi. sementara, Laila semakin menunjukkan wajah sombongnya. Bu Siska mengembalikan kertas soal kepada masing-masing siswa. Hingga jam istirahat tiba, anak-anak masih ramai saling membandingkan hasil ulangan mereka.

            “Eh, Fani, kamu yang nomor delapan jawabannya apa?” tanya Aila.

            “Aku jawab D,” jawab Fani.

            “Pantesan salah, aku jawab A,” jawab Aila.

            “Kalau kamu Laila, jawabanya apa?” tanya Fani.

            “Aku jawab E, aku juga salah,” jawab Laila.

            Setelah membandingkan soal-soal ternyata yang paling banyak benar adalah Fani. Laila lalu bertanya kepada Fani, “Fani, kamu dapat nilai berapa?”

            “Sembilan puluh delapan. Aku juga kaget nilaiku bagus,” jawab Fani.

            “Kalau kamu berapa, Aila?” tanya Laila lagi.

            “Aku dapat sembilan puluh,” jawab Aila.

            “Kalau kamu sendiri berapa, La?” tanya Aila.

            Laila tidak menjawab pertanyaan Aila dan Fani, tapi bangkit dari duduknya dan terlihat sangat marah pada mereka, “Eh, Fani! Katanya kamu ada yang masih tidak mengerti, katanya tidak bisa, kok kamu nilainya bisa lebih tinggi dari aku? Pasti nyontek, ya!” tuduh Laila

            “Enggak, kok? Aku tidak menyontek,” jawab Fani dengan sedikit takut. Baru sekali ini Laila sampai menuduhnya, padahal mereka belajar bersama. Mendengar ucapan Laila, Fani sedikit berkeringat dingin, mukannya pun sedikit pucat. Sedangkan teman mereka, Aila, melerai Laila dan Fani.

            “Sudah, sudah, tidak usah bertengkar, ujian berikutnya Laila bisa lebih berusaha lagi, kan?” hibur Aila sambil berusaha menasehati.

            “Kamu membela Fani, ya?” tuding Laila lagi, yang nada berbicaranya semakin tinggi.

            “Tidak,” jawab Aila. Tapi sepertinya Laila tidak mau dengar, sebab Laila segera pergi meninggalkan kelas lalu pergi ke taman. Melihat teman mereka pergi, Aila dan Fani saling berpandangan, bingung harus melakukan apa. Ketika mereka ingin menghampiri Laila yang pergi, bel tanda jam istirahat telah usai berbunyi. Menjadikan keduanya urung menyusul Laila dan kembali duduk di bangku masing-masing.

            Suasana kelas ramai ketika terdengar suara langkah kaki Bu Lista memasuki ruangan, mereka langsung terdiam. Ketika sampai di depan kelas, Bu Lista lalu mulai menghitung semua muridnya dan sadar ada yang meninggalkan bangku, yaitu Laila

            “Anak-anak ada yang tahu di mana Laila?” tanya Bu Lista, lalu menatap murid-murid satu per satu. Tidak ada yang menjawab hingga akhirnya Bu Lista bertanya lagi, “Apakah Aila dan Fani tahu?”

            Disebut namanya, Aila dan Fani bersamaan meneguk ludah, lalu bertukar pandang. Diam lama sekali sampai Fani akhirnya berdiri dan berkata, “Bu, Laila tadi pergi ke taman. Waktu mau kami susul, bel istirahat berbunyi, jadi tidak sempat ke sana.”

            “Kok bisa Laila pergi ke taman, lalu tidak balik lagi?” tanya Bu Lista lagi.

            “Maaf, Bu, mungkin bisa diceritakan nanti karena ceritanya cukup panjang,” jawab Aila.

            “Baiklah nanti dijelaskan kepada Ibu, ya,” kata Bu Lista lalu segera memulai pelajarannya.

            Hari ini bahasa Inggris dan ini adalah pelajaran kesukaan Laila, pikir Fani kalau saja ada Laila, ia pasti sangat senang dan ketika ditanya ia akan selalu menjawab pertama karena ia sangat, sangat suka Bahasa Inggris. Belum lama Fani memikirkannya, terdengar pintu diketuk dari luar. Seisi kelas ikut menoleh lalu menatap daun pintu, termasuk Bu Lista.

            Bu Lista mempersilakan siapa pun yang mengetuk masuk, dan begitu pintu terbuka, ternyata yang berdiri di sana adalah Laila. Kepalanya ditundukkan saat berjalan masuk ke dalam kelas. “Maaf, Bu, saya terlambat masuk,” katanya, lalu berjalan ke bangkunya sendiri.

            Saat mendongak, ia melihat Fani dan Aila yang menatapnya lekat-lekat. Kesal, akhirnya ia memilih untuk membuatng muka. Laila pun menyimak penjelasan Bu Lista. Tapi seberapa pun keras usahanya untuk berkonsentrasi, yang diingat hanya kejadian tadi. Jadi, sepanjang pelajaran berlangsung, dia hanya duduk gusar. Tidak bisa fokus sampai waktu pulang.

            Awalnya, Aila dan Fani ingin mengajak Laila untuk pulang bersama, juga ingin meminta maaf kalau Laila sangat marah sama Fani dan Aila, tapi belum sempat mereka menyapa Laila, Laila sudah beranjak dari tempat duduknya, pulang sendirian. Fani menghela napas panjang melihat temannya memilih menghindar. Di sisi lain, Aila menepuk-nepuk pundaknya berusaha menenangkan.

            “Pulang, yuk? Besok kita baru bicara lagi dengan Laila.”

            Fani hanya mengangguk lesu. Capek sekali rasanya. Padahal sudah ia beritahu kalau ia memang tidak menyontek. Karena itu, sepanjang perjalanan pulang, langkahnya lesu sekali.

            Rumah Aila, Fani, dan Laila sangat dekat. Dulu mereka sering bermain dan pulang sekolah bersama. Tapi hari ini, tidak ada Laila rasanya hampa. Ketika sudah sampai rumah, mereka berpisah. Bagi Fani, rasanya makin sepi walau Aila memberitahu sore nanti akan mengajak Fani bermain.

            Belum sampai masuk ke dalam rumah, Fani melihat Laila yang baru sampai rumahnya. Tapi ada yang sedikit aneh dari Laila, karena ia diantar oleh dua temannya. Bukannya sendirian. Tidak tahu siapa. Fani tidak kenal walau juga tetangganya. Terbiasa main hanya bertiga jadi benar-benar tidak kenal anak-anak lain di komplek rumah mereka. Tapi, Fani masih bisa melihat teman Laila yang masuk ke rumahnya. Dan sebelum pulang, mereka juga sepertinya juga berjanjian akan bermain bersama seperti Fani dan Aila.

            Fani semakin sedih karena merasa ditinggalkan Laila. Ia merasa semakin ditinggalkan begitu menyadari kalau Laila mempunyai teman baru. Dengan langkah gontai dan wajah lesu, Fani segera masuk kerumahnya. Lemas sekali. Berbanding terbalik dengan ekspresi ibunya yang menyambutnya hangat.

            “Anak Ibu baru pulang? Bagaimana di sekolah?” tanya ibunya dengan tangan mengusap puncak kepala Fani. Fani hannya tersenyum lemah lalu bergumam panjang. “Biasa saja, Bu. Nggak ada yang menarik, kok,” akunya.

            “Kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu. Nanti kalau kamu ingin main, boleh.”

            Fani hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Seragamnya segera diganti dengan kaus dan celana pendek. Usai mencuci kaki, Fani merebahkan diri diatas tempat tidur. Ia masih tidak tahu harus berbuat apa dengan Laila, dan karena terlalu memikirkannya, tanpa sadar, ia memejamkan mata lalu tertidur.

            ***

            Keesokan paginya Fani dan Aila datang paling awal, mereka langsung duduk di bangku terdepan. Di kelas belum ada siapa-siapa. Lama-kelamaan mereka bosan, dan akhirnya mereka keluar kelas. Ketika Aila dan Fani ingin keluar kelas di depan pintu ada Laila beserta temannya. Aila dan Fani hampir saja tertabrak Laila dan temanya itu. Dengan nada sombong Laila berkata.

            “Eh, makanya kalau jalan itu lihat-lihat, kan punya mata!” Kata Laila, sambil masuk ke kelas lalu duduk.

            Fani dan Aila tidak menghiraukan perkataan Laila yang menyebalkan itu. Mereka terus jalan menuju taman. Aila dan Fani duduk di bawah pohon yang rindang. Mereka tidak berkata satu kata pun mereka hanya melihat langit yang biru, burung berkicau dan awan yang seperti kapas. Tak lama kemudian bel berbunyi semua anak masuk ke kelas. Aila dan Fani juga berjalan memasuki ruangan kelas. Dilihatnya Laila yang duduk bersama  sahabat barunya itu. Fani duduk di kursi sebelah Aila. Mereka merasa sekarang sudah sangat jauh dengan Laila, mereka sudah tidak pernah saling menyapa lagi.

            Tak terasa hari berlalu. Ketika jam istirahat tiba. Semua anak-anak pergi meninggalkan kelas Fani dan Aila melihat temannya, Laila berjalan bersama temanya. Fani dan Aila masih belum tahu siapa nama temannya itu, Laila dan temannya berjalan keluar kelas sambil bergandengan tangan dengan dua temannya itu. Aila dan Fani semakin penasaran pelan-pelan mereka mengikuti Laila dari belakang. Ternyata Laila menuju ke kantin.

            “Aila, menurutku sepertinya Laila membuat geng baru deh,” kata Fani.

            “ Iya sepertinya,” jawab Aila.

            Mereka mengabaikan Laila. Aila dan Fani membuat hari-harinya seperti biasa. Akhirnya mereka membeli makanan. Ketika dilihat, ternyata Aila dan Fani sekarang tahu siapa nama dua teman Laila itu. Namanya Nova dan Rika.

            Bagaimana Fani dan Aila tahu?

            Aila dan Fani tahu, karena ketika mereka ingin membeli macaroni dua teman Laila juga membeli. Aila dan Fani melihat tanda nama di seragam mereka ketika dilihat ternyata ada tulisan namaya seperti yang dimiliki oleh Fani dan Aila. Selah membeli macaroni Laila, Nova, dan Rika segera berlari ke kelas.

            Sesampainya di kelas dilihatnya Laila dan dua temannya itu, Rika dan Nova makan dengan sangat lahap, seperti belum pernah makan saja. Aila dan Fani duduk di kursinya lalu mereka makan dengan pelan-pelan. Selesai makan Aila dan Fani membuang plastik bekas makan macaroni tadi. Mereka saling mendiamkan sampai bel berbunyi.

            Pelajaran setelahnya adalah Bahasa Indonesia, sebelumnya Bu Linda memberikan pekerjaan rumah Fani dan Aila sudah mengerjakannya dari kemarin. Mereka diminta untuk membuat lima ungkapan  dan tiga peribahasa. Tak lama kemudian Bu Linda masuk. Bu Linda memang sering masuk sebelum bel, tapi bukan berarti yang masuk setelah  Bu Linda terlambat. Biasanya Bu Linda masuk untuk menulis penjelasan singkat di papan tulis terlebih dahulu.

            Tak lama kemudian, bel berbunyi semua anak masuk ke kelas mereka segera duduk di kursi masing-masing. Bu Linda meminta untuk pekerjaan rumah yang ia minta kerjakan beberapa hari lalu. Fani dan Aila membuka tasnya dan mereka menyadari bahwa buku Bahasa Indonesia mereka tidak ada.

            Dengan panik Aila dan Fani bingung harus berbuat apa.ketika akhirnya Bu Linda sudah di dekat Fani dan Aila mereka sangat-sangat panik, karena Bu Linda terkenal sedikit galak. Kalau muridnya tidak mengerjakan pekerjaan rumah mereka akan terkena hukum yaitu, mereka harus berdiri di luar kelas sambil menulis pekerjaan rumah yang diminta.

            Ketika Bu Linda sudah di depan meja Aila dan Fani mereka sudah tidak bisa berpikir lagi.

            “Mana pekerjaan rumah kalian, sudah dikerjakan belum? Kumpulkan sekarang,” kata bu Linda sambil mengodorkan tangan kanannya.

            “Em…., kami sudah mengerjakan, dan sudah kami bawa tapi….” Jawab Aila yag terpotong oleh perkataan Bu Linda

            “Tapi… tidak ada di tas kalian? Memang alasan yang  bagus,” kata Bu Linda

            “Maaf, Bu,” jawab Fani.

            “Keluar kalian!” bentak Bu Linda sambil menunjuk pintu.

            Aila melihat wajah Laila yang tersenyum penuh kemenangan.     

            Mereka segera menuju pintu kelas, lalu keluar. Mereka diberi hukumannya yaitu, berdiri hingga pelajaran selesai, di lorong sekolah. Ketika mereka sedang menjalani hukuman berdiri di lorong sekolah Fani sakit perut, karena tidak tahan, lalu ia berkata.

            “Aila, aku sakit perut nih, mau ke toilet, kamu mau temani aku ke toilet tidak?” kata Fani.

            “Boleh, aku juga mau ke toilet,” jawab Aila yang sejak tadi juga ingin buang air kecil.

            Mereka berjalan menuju toilet bersama. Mereka masuk ke toilet, ketika mereka masuk ke toilet, mereka sangat kaget. Seseorang telah menaruh buku mereka di dalam wastafel dan mengucurinya dengan air.  Fani segera mematikan air wastafel yang masih menyala. Fani dan Aila segera mengambil buku mereka yang basah sekali. mereka menuju ke kelas untuk memberitahu kepada guru di kelas, buku mereka yang sangat basah membuat jalan menuju kelas sedikit basah, akibat tetesan dari buku Bahasa Indonesia mereka. Mereka sedikit gemetar. Fani yang mengetuk pintu terlebih dahulu.

            “Iya, silahkan masuk,” kata Bu Linda.

            Terdengar suara dari dalam. Fani dan Aila masuk perlahan-lahan, mereka sedikit takut karena sebetulnya mereka belum boleh masuk, apalagi mereka baru saja dihukum. Mereka akhirnya masuk, lalu Aila menutup pintu kelas.

            “Kenapa kalian masuk? Kalian kan belum diizinkan masuk, kalian baru diizinkan masuk setelah pelajarannya usai, keluar kalian!” Kata Bu Linda dengan tegas.

            “Maaf Bu, kami hanya ingin memberitahu ibu, kalau sebenarnya, buku Bahasa Indonesia kami ada di wastafel dengan keadaan sudah rusak, kami tidak tahu siapa yang melakukan ini semua,” kata Fani.

            “Maaf ya, Ibu tidak tahu ada orang yang sengaja mengerjai kalian,” kata Bu Linda, pandangannya berganti menjadi menyesal.

                       “Ya, sudah kalian boleh masuk  lagi ya,” kata Bu Linda.

            Fani dan Aila menuju tempat duduk mereka. Mereka masih memikirkan siapa yang melakukan ini semua. Karena mereka sudah tidak punya buku Bahasa Indonesia lagi, mereka mencatat apa yang yang dijelaskan oleh Bu Linda.

***

            Minggu depannya ujian IPA, ada anak yang biasa saja ekspresi wajahnya,  mungkin karena mereka sudah belajar, dan ada juga anak yang terlihat sedikit cemas mungkin karena mereka belum belajar. Fani dan Aila sudah belajar bersama di rumah Aila.

            Bel tanda masuk kelas berbunyi, semua anak berlarian ke kelas masing-masing. Fani dan Aila duduk berdekatan,mereka sudah siap untuk ujian IPA. Tak lama kemudian Pak Ismail masuk, ia tidak basa-basi ia segera membagikan kertas untuk ujian. Ternyata yang dipelajari oleh Fani dan Aila tidak sama dengan yang di ujian sekolah. Fani dan Aila sedikit cemas dan takut, mereka hanya mengerjakan sesuai dengan yang mereka mampu. Kertas ujian pun dibagikan, semua anak cemas karena memikirkan berapa nilai mereka.

            Pak Ismail memberi tahu semua murid-muridnya, kalau hasil ulangan akan dibagikan minggu depan. Hari ini ada acara untuk anak kelas enam, jadi semua anak mulai dari kelas lima sampai kelas satu pulang terlebih dahulu.

            Minggu depannya Aila dan Fani sangat cemas, mereka menuggu hasil ulangan di bagikan. Bel kelas berbunyi, semua anak menuju kelas, dengan perasaan khawatir nilai mereka akan kurang memuaskan. Pak Ismail masuk dengan membawa kertas ujian kemarin yang sudah ia koreksi. Pak Ismail memberikan kertas ujiannya kepada seluruh muridnya. Fani dan Aila melihat hasil ujian mereka. Walau hasilnya mereka tidak remedial tapi tetap sedikit kurang memuaskan.

            Bel tanda istirahat makan siang berbunyi, anak-anak menuju kantin untuk makan siang. Fani dan Aila membeli  makan siang mereka membeli, bakso dan es jeruk nipis. Mereka makan dengan sangat lahap. Selesai makan mereka menuju ke kelas, di kelas mereka membicarakan soal ujian kemarin. Tak lama kemudian Nova dan Rika memanggil Fani.

            “Fani, kamu dipanggil ke ruang guru,” kata Nova, sambil jarinya menunjuk ke arah ruang guru.

            “Oh, oke,” kata Fani.

            Fani diantar Aila ke ruang guru, Fani membawa kertas dan tempat pensil, sebab diberitahu untuk membawanya oleh Nova. Fani mengetuk ruang guru, lalu masuk, di sana ada kepala sekolah dan Laila. Tak berkata apa-apa, Pak Ismail, guru IPA segera meminta izin untuk memeriksa kotak pensil milik Fani, Fani semakin bingung ada apa? Kenapa Pak Ismail meminta izin untuk memeriksa kotak pensilnya. Tak lama kemudian Pak Ismail menemukan sontekan ujian IPA, Fani bingung sekali, dia saja tidak tahu kalau di tempat pensilnya ada sontekan IPA. Tapi ketika Pak Ismail membaca kertas sontekannya itu ada sesuatu yang janggal, ternyata, tulisan tangannya tidak sama dengan tulisan tangan Fani. Tapi mirip dengan tulisan tangan Laila. Lalu Laila diminta untuk menulis kalimat apa saja, ternyata benar tulisan kertas sontekannya sama dengan tulisan tangan Laila.

            “Fani, kamu jujur sama Bapak ya, kamu meminta Laila untuk menuliskan sontekan ini ya?” Tanya Pak Ismail.

            “Tidak Pak, bukan, aku tidak meminta untuk menuliskan sontekan ini, aku saja tidak tahu siapa yang menaruhnya di tempat pensilku,” jawab Fani dengan perasaan sedikit takut.

            “Tapi bagaimana mungkin kertasnya bisa di dalam kotak pensilmu itu?” Tanya Pak Ismail lagi.

            Fani hanya diam saja, ia tidak menjawab pertanyaaan Pak Ismail.Sementara Laila yang ada di ruangan itu hanya terdiam. Sebenarnya, ia yang menaruh sontekan itu di tempat pensil Fani. Ia hanya ingin supaya nilai Fani menjadi jelek, karena jika ketahuan menyontek akan diberi nilai nol. Ia tidak menyangka kalau Fani akan terlibat masalah sejauh ini.

            “Karena kamu yang melakukannya kamu akan Bapak skors. Sekolah ini tidak main-main dengan penyontekan, Fani,” kali ini Bapak Kepala Sekolah yang mengatakannya. Fani hanya menunduk, menahan tangisnya. 

            Karena tidak tega melihat sahabatnya itu, akhirnya Laila mengakui kalau sebetulnya ia yang melakukan semua itu, mulai dari membasahi dan merusak buku Bahasa Indonesia Fani dan Aila, hingga menaruh sontekan di tempat pensilnya agar Fani mendapat nilai nol.

            “Maaf Pak, sebenarnya aku yang melakukan ini semua, aku sebenarnya hanya iri karena waktu itu nilai ujian matematika Fani lebih tinggi,” Kata Laila mengakui perbuatannya.

           “Maafkan aku ya Fani,” kata Laila.

            “Iya aku maafkan, kita akan jadi sahabat lagi ya, bersama Nova dan Rika, semakin banyak deh,” kata Fani. Meski begitu Laila tetap mendapatkan hukumannya akibat perbuatannya selama ini. Laila diskors selama semiggu. Tapi, ia mempelajari sesuatu, nilai di atas kertas bukanlah apa-apa, karena tidak ada yang mengalahkan nilai sebuah persahabatan.

***

 

Share This: