THE SECRET OF FOLKSWHITE PART 1

Oleh: Uswatun Hasanah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)

                Kota kecil Folks diguyur salju lebat subuh tadi, saat anak ayam masih terlelap di bawah tubuh induknya, saat tungku perapian di rumah-rumah hampir padam setelah semalaman menyala. Maka pagi ini, seisi kota diselimuti salju, tampak putih dari kejauhan. Folks tak ubahnya seperti negeri di atas awan, semua yang terlihat tampak menakjubkan. Jalanan yang mulai dibersihkan dari tumpukan salju, atap-atap yang mengeluarkan asap cari cerobongnya, pohon-pohon pinus yang berkilauan tertimpa cahaya matahari, dan ibu-ibu yang berjalan membawa keranjang sayur di tangannya.

                Sudah tiga bulan ini musim dingin menyelimuti kota Folks. Seharusnya sebentar lagi akan memasuki musim semi. Musim saat Edward dan anak-anak kecil penduduk Folks mulai pergi ke sekolah, dan membantu orang tua mereka menanam buah-buah dan sayuran di kebun setelahnya. Namun, saat musim dingin begini, tidak banyak yang penduduk Folks lakukan selain menghangatkan diri di dalam rumah di depan tungku perapian, dan atau melakukan perburuan. 

                Pagi ini Edward diajak ayahnya, Mr. Edmund berburu rusa di hutan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kota Folks bersama dengan Lucy dan ayahnya, Mr. Kenneth, dan juga beberapa penduduk lainnya, Mr. Jack, Mr. Brown dan Mr. Hesley. Edward dan Lucy menjadi yang paling muda diantara pemburu lainnya. Mereka berdua adalah teman satu sekolah. Jarak rumah Eward dan Lucy pun juga tidak begitu jauh. Hampir setiap minggu Edward melewati rumah Lucy saat hendak pergi ke toko daging Mr. Will. Tak jarang mereka berpapasan di toko itu saat berbelanja.

                Perlahan rombongan Edward mulai meninggalkan kota Folks, berjalan melewati jalan setapak yang ditutupi salju, di samping kiri kanan merupakan perkebunan apel. Namun sayang, pada musim dingin begini ranting-ranting pohon apel nampak polos tanpa daun. Mereka nampak sekarat. Konon katanya, pohon juga melakukan hibernasi. Legenda Dormancy sangat populer di kalangan penduduk kota Folks. Legenda yang menceritakan bahwa pohon-pohon akan berpuasa selama musim dingin.  

                “Hey, Edward. Kau lihat, itu ada apel,” bisik Lucy seraya menarik lengan Edward menghampiri salah satu pohon apel. “Jika kita bisa mendapat beberapa apel, ini akan bagus. Cukup untuk makan selama perjalanan. Kau tahu, aku tadi hanya makan sepotong sosis dan susu kambing.”

                “Ide bagus.”

                Rombongan para pemburu sudah berjalan beberapa meter di depan, sementara Edward dan Lucy masih tertinggal di belakang, memetik beberapa buah apel yang masih tertinggal di pohon, tertutupi sedikit salju. Namun tidak semua apel yang mereka petik dalam keadaan bagus. Beberapa diantaranya sudah berlubang, dipatuki burung-burung kelaparan.

                “Kau tahu, apel sisa burung ini yang paling enak. Burung tentu tidak akan salah memilih apel, mereka akan memilih apel yang terbaik untuk mereka makan.” Tanpa pikir panjang Lucy menggigit apel bekas patukan burung setelah sebelumnya membersihkan bagian yang tertempeli salju.

                “Kau menggelikan sekali, bagaimana kau tahu bahwa paruh burung itu bersih. Bisa jadi sebelum memakan apel itu, ia mematuk pohon-pohon mencari ulat.”

Jawaban Edward sukses membuat Lucy menghentukan aktifitas mengunyahnya.

                “Mana ada burung memakan ulat!” jawab Lucy sedikit mendelik.

                “Kau bodoh atau bagaimana? Tentu saja burung juga makan ulat.”

                Sontak, Lucy memuntahkan apel yang belum selesai ia kunyah. Sementara Edward hanya tersenyum lalu beranjak pergi.

                “Hey, tunggu, kau harus membantuku membawa apel-apel ini!” teriak Lucy kewalahan memasukkan beberapa apel ke dalam tas kulitnya.

                Edward seolah tidak menggubris teriakan temannya. Ia tetap berjalan di depan. Rombongan pemburu sudah tidak terlihat, ia takut tertinggal terlalu jauh. Apalagi, ia belum mengerti betul daerah yang akan menjadi tempat perburuan mereka. Jika tersesat, bisa bahaya.

                Edward terus berjalan mengikuti jalan setapak. Setelah melewati perkebunan apel, jalanan yang ia lalui mulai sedikit menanjak. Tampak jejak-jejak kaki tertinggal di sana. Itu menandakan rombongannya berjalan tidak jauh di depan. Sementara di belakang, Lucy tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Edward. Beberapa kali ia berhenti, mengatur ulang napasnya yang tersengal-sengal. Namun saat Edward sudah agak jauh di depannya, ia segera berjalan lagi.

                “Kau jahat sekali meninggalkanku,” ucap Lucy saat berhasil menyamai langkah Edward.

                “Aku tidak ingin tertinggal rombongan,” jawab Edward tanpa menoleh.

                Edward dan Lucy sudah mulai memasuki kawasan hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi diselimuti serpihan kristal es. Jejak kaki rombongan Edward bercampur dengan jejak kaki hewan-hewan di dalam hutan. Dengan teliti Edward mengikuti jejak tersebut, sementara lucy mengekor di belakangnya sembari memakan apel yang mereka petik tadi.

                “Edward, apa kau tahu legenda yang ada di hutan ini?”

                “Legenda apa maksudmu?”

                “Mr. Will, pemilik kedai daging pernah bercerita kepadaku jika sebenarnya di hutan ini ada sebuah gerbang yang bisa membawa kita ke negeri ajaib, di sana hewan-hewan dapat berbicara layaknya manusia. Bagaimana jika kita tidak usah ikut perburuan ini, dan mencari gerbang itu saja.” terang Lucy panjang lebar.

                “Kau terlalu banyak membaca buku fantasi, makanya pikiranmu membayangkan hal-hal yang tidak tidak.”

                “Hei, aku tidak bercanda. Mana mungkin Mr. Will akan membohongiku dengan cerita seperti itu.”

                “Siapa tahu Mr. Will sedang bercanda, tapi kau anggap serius candaannya itu.”

                “Oh, ayolah. Aku tidak sebodoh itu bisa dibohongi oleh si botak itu.”

                “Buktinya kau percaya juga dengan cerita karangannya.”

                “Ah, sudah lah. Percuma berdebat denganmu.”

                Lucy yang tadinya berjalan di belakang Edward kini mempercepat langkahnya karena merasa kesal dengan Edward. Ia pun tidak memperhatikan jalannya. “Hei, Lucy! Kau salah jalan,” ucap Edward di belakang. Sementara Lucy, tanpa berbicara berbalik arah mengikuti Edward.

Namun baru beberapa langkah Lucy berjalan, tiba-tiba terdengar suara letusan senapan angin yang cukup kencang, diikuti salju-salju yang berguguran dari atas pohon dan burung-burung terbang keluar dari sarangnya.

                “Kau dengar!?” ucap Lucy.

                “Sepertinya mereka berhasil menemukan buruan. Ayo kita ke sana!”

                Baru beberapa meter berlari, dari arah kanan terlihat seekor rusa berlari terhuyung-huyung ke arah mereka. Salju yang ia lewati tampak merah terkena tetesan darah yang mengucur dari paha kirinya. Melihat itu, Edward segera meraih senapan yang ada di punggungnya dan mengarahkannya moncongnya kearah rusa yang saat ini terduduk tak berdaya di depannya.

                “Dia pasti tertembak olek rombongan kita,” ucap Lucy yakin. “Kita harus segera memberitahu orang-orang rusa buruan mereka ada di sini.”

                Edward tetap gigih mengarahkan moncong senapannya ke arah rusa yang tak berdaya. ia tak menanggapi sedikitpun ucapan Lucy. Namun semakin lama ia menatap mata rusa itu, ada sebuah dorongan dalam hatinya yang mengatakan untuk tidak membunuh rusa itu.

                “Jangan bunuh aku, kumohon.”

                Edward menoleh mendengar suara rintihan seseorang. Menjauhkan kepalanya dari gagang senapan. “Kamu yang baru saja bicara?” tanya Edward kepada Lucy.

                “Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa sejak tadi,” jawab Lucy. “Apa kamu mendengar suara hantu merintih?”

                “Lupakan,” balas Edward, ia kembali mendekatkan gagang senapan itu di kepalanya seolah hendak membidik sasaran didepannya.

                “Selamatkan aku, Edward!

                Edward membelalakkan matanya, sekarang ia tahu suara siapa yang sejak tadi ia dengar. Rusa di depannya. Ia melihat rusa itu mengeluarkan air mata, tatapannya memandang Edward begitu dalam.

                “Kumohon Edward, jangan biarkan orang-orang itu membunuhku,”

                Edward mendengar rusa itu berbicara lagi.

                “Hey Edward, apa yang kamu lakukan, cepat tembak rusa itu!” ucap Lucy, sementara Edward hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. “Paman! Kami menemukan rusanya!” teriak Lucy.

                “Hey Lucy diamlah, apa kau tidak mendengar rusa ini memohon untuk diselamatkan?” Akhirnya Edward buka suara.

                “Apa maksudmu dia minta diselamatkan?”

                “Apa kau tidak bisa mendengar suaranya?”

                “Aku tidak mendengar apa-apa, Edward.”

                “Oh Tuhan, tidak mungkin aku berhalusinasi, kan?!” Edward mengusap mukanya putus asa. Rupanya hanya ia yang mendengar suara rusa di depannya.

                Lucy mendekati rusa itu dan mulai berjongkok tepat di depan kepalanya. Ia dekatkan telinganya kearah mulut sang rusa. “Benar, aku tidak mendengar suara apa-apa,” jawabnya pasti. Sejurus kemudian, Lucy memandang lekat kearah mata rusa di depannya. Rusa itu menangis. “Kenapa dia menangis, Edward?”

                “Aku mendengar dia meminta tolong kepada kita untuk menyelamatkannya,” jawab Edward ikut berjongkok, dan mengelus kepala rusa itu.

                “Kalau begitu kita harus menolongnya!”

                “Kau yakin kita bisa melakukannya?” tanya Edward ragu.

                “Yakin, kita hanya harus mengalihkan perhatian orang-orang agar tidak mendekat kea rah sini. dan membawa rusa ini ke tempat yang aman.”

                “Baiklah, kau yang mengalihkan perhatian, aku yang akan membawa rusa ini ke tempat yang aman.”

                “Oke.”

                Lucy segera berlari ke arah yang berlawanan dengan Edward. Kemudian, setelah cukup jauh, ia berteriak memberitahu rombongannya bahwa ia melihat rusa. Sementara itu, di sisi hutan yang lain, Edward membawa rusa yang terluka itu ke tempat yang aman. Di dekat sebuah batu besar yang ditumbuhi semak-semak yang tertutup salju.

                “Edward, terima kasih.”

                Belum sempat Edward mengatakan apa-apa, beberapa rusa menghampirinya. Ia tampak sedikit ketakutan. Rusa-rusa itu kemudian mendekati rusa yang terluka, dan kemudian meneteskan air mata mereka di atas luka tembakan yang dipenuhi bercak darah. Satu detik kemudian, luka itu menutup sempurna, bercak darahnya pun lenyap seolah tidak pernah ada luka di sana. Dan rusa yang tadinya tergeletak, kini Nampak sehat kembali.

                “Bagaimana bisa ini terjadi. Siapa kalian?” tanya Edward ketakutan.

                “Tenanglah Edward, aku Emett, dan mereka adalah penduduk negeri Folkswhite,” terang rusa yang tadinya terluka.

                “Folkswhite? Apa itu?” tanya Edward, namun belum sempat pertanyaan itu terjawab, terdengar suara-suara manusia. Itu adalah suara rombongan Edward.

                “Maaf, kami harus pergi.”

                Emett dan para rusa lainnya mulai berlari meninggalkan Edward yang masih diselimuti berbagai pertanyaan.

                “Hey tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku!”

                Emett berhenti sejenak dan membalikkan badannya, “Jika kau ingin tahu, datanglah kembali esok pagi. Akan kutunggu kau di sini!” ucapnya. “Kau juga boleh mengajak Lucy, aku menyukai anak berpipi merah itu.”

                Emett dan rusa-rusa lain pun lenyap di balik pepohonan yang tertimpa salju. Sementara Edward berbalik dan menghampiri rombongannya. Di sana juga ada Lucy yang memangdangnya dengan penuh arti.

***

                “Kau harus ikut aku besok pagi.” bisik Edward kepada Lucy saat perjalanan pulang.

                “Kemana? Bisakah kau menceritakan padaku apa yang terjadi pada rusa malang itu?”

                “Kau akan tahu besok. Begitu pun aku.”

                “Baiklah.”

                “Kutunggu di gerbang kota besok pagi jam delapan. Jangan sampai terlambat.”

***

Share This: