THE SINGING CONTEST

Oleh: Rasyiqah Mutiara Safanah Nurdiansyah

            “Pagi yang cerah,” gumam Luna sambil menghirup udara pagi hari seraya mengayuh sepeda menuju sekolah bersama sahabatnya, Tiffany.

            “Cepat Luna! Bentar lagi terlambat nih!” seru Tiffany yang sudah jauh di depan Luna.

            “Iya, iya,” ucap Luna sambil mengayuh sepedanya lebih cepat lagi.

            Setelah sampai di sekolah, Luna dan Tifany langsung menuju ke kelas, beruntung mereka tidak terlambat.

            “Halo, semua!” sapa Tiffany dan Luna bersamaan saat masuk kelas, tetapi tidak ada yang menjawab. Semua anak fokus pada tas baru Sarah yang katanya beli di Perancis.

            “Tas ini dibelikan oleh ayahku di Perancis, loh,” pamer Sarah. “Ini sangat mahal, aku yakin orang seperti Tiffany dan Luna tidak akan mampu membelinya,” lanjutnya sambil melirik ke arah Tiffany dan Luna yang baru saja datang. Namun, Tiffany pura-pura tidak mendengar. Sementara dalam hati, Luna sedang menahan amarahnya.

            Bel berbunyi, anak-anak kembali ke bangku masing-masing. Menghentikan kekesalan Luna yang rasanya mau meledak. Pagi ini kegiatan belajar di kelas dimulai dengan pelajaran matematika tentang debit yang diisi oleh Ms.Caroline. Pelajarannya lumayan sulit menurut Tiffany.

            Bel kedua pun berbunyi, menandadak kegiatan pelajaran jam pertama berakhir. Tiffany sangat senang karena telah lepas dari penatnya pelajaran matematika.

            “Ke kantin yuk!” ajak Tiffany kepada Luna.

            “Ayo.” Luna pun berjalan dan menggandeng lengan Tiffany keluar kelas.

            Di sepanjang perjalanan menuju kantin, Tiffany dan Luna mengobrol dengan riang. Namun tiba-tiba, Buuukkkkk!!

            Tiffany terjatuh karena dijegal oleh Flora, semua mata di lorong tertuju pada Tiffany.

            “Maaf, sengaja,”ucap Flora.

            “Hei semua! Lihat anak panti terjatuh!” ejek Sarah, salah satu teman Flora.

            Tanpa rasa bersalah, mereka pergi begitu saja sambil tertawa dengan suara kencang, persis seperti nenek sihir.

            “Kamu gak kenapa-napa kan?” ujar Luna khawatir sambil membantu Tiffany berdiri, sementara Tiffany hanya membalas dengan senyuman.

            Usai istirahat, waktunya pelajaran musik bersama Ms. Victoria atau biasa juga dipanggil dipanggil Ms. Tory. Di akhir pelajaran, Ms. Tory mengumumkan sesuatu.

            “Oke semua, sebulan lagi akan diadakan lomba menyanyi berkelompok antar kelas. Dalam satu kelas ada perwakilan dua kelompok, dan setiap kelompok berisi dua orang. Kelompok yang menang akan dikirim untuk mengikuti lomba menyanyi se-Jabodetabek,” terang Ms. Tory kepada seluruh murid. “Berdasarkan evaluasi yang Miss lakukan selama beberapa pecan ini, yang akan mewakili kelas ini adalah Sarah dan Flora di kelompok pertama, Tiffany dan Luna di kelompok kedua. Lomba akan diadakan tiga minggu lagi.  untuk kelompok yang terpilih, silahkan datang ke ruang musik sepulang sekolah untuk latihan dengan Miss.”

            Tiffany sangat senang, karena menyanyi adalah hobinya. Apalagi dia dalam kontes ini dia satu kelompok dengan sahabatnya, Luna. Selama di sekolah dia tidak lagi fokus pada pelajaran, dia sibuk membayangkan keseruan acara lomba nanti.

            “Tiffany!” seru Mr.Hafid di depan papan tulis, membuyarkan khayalan Tiffany tentang lomba. “Kenapa dari tadi melamun saja? Kamu sedang sakit atau kenapa?” tanya Mr. Hafid kemudian. Tiffany pun menggeleng dan berusaha kembali fokus ke pelajaran.

            Bel pertanda waktu pulang pun berbunyi. Tiffany dan Luna dengan sigap berlari menuju ruang musik. Mereka setuju akan mengikuti latihan tambahan menyanyi besok. Setelah itu, mereka pulang sambil berlomba naik sepeda, siapa yang paling cepat sampai. Sesampainya di panti asuhan tempat mereka tinggal, Tiffany dan Luna segera mengganti baju dan bermain. Luna asyik bermain dengan teman-teman panti, sedangkan Tiffany memilih untuk membaca buku karena merasa lelah seharian di sekolah.

***

            Esoknya seusai pulang sekolah, mereka bergegas menuju ke ruang music. Tetapi sesampainya di sana, ruangnnya kosong, tidak ada orang. Mereka pun menunggu di luar. Saat sedang menunggu di depan ruang music, Tiffany tidak sengaja melihat ibu Sarah dan ibu Flora sedang mengobrol.  “Tidak biasanya ibu Sarah dan ibu Flora datang. Ada apa ya? Apa Flora dan Sarah membuat masalah sehingga orang tuanya harus datang?” ucap Tiffany dalam hati.

            “Lun, menurutmu mereka sedang ngomongin apa ya?” Tanya Tiffany pada Luna sambil menunjuk ibu Sarah dan ibu Flora.

            “Paling bergosip,” kata Luna enteng.

            Tiffany merasa kaget dengan jawaban Luna. “emm… sebentar, sepertinya aku salah menunjuk,” ucap Tiffany dalam hati, ternyata ia menunjuk kumpulan adik kelas yang sedang berkumpul.

            “Bukan,” kata Tiffany gemas kemudian menunjuk dengan benar.

            “Oh, gak tau deh,” ucap Luna setelah mengtahui yang sebenarnya ditunjuk Tiffany adalah kedua ibu Sarah dan Flora.

            “Hey kalian, ayo masuk dan berlatih!” ujar Ms. Tory yang ternyata sudah ada di ruang musik sedari tadi, namun tidak terlihat dari luar pintu. Tiffany dan Luna segera masuk dan berlatih selama satu setengah jam.

            Ternyata ibu Sarah dan ibu Flora datang atas permintaan Sarah dan Flora. Ibu Sarah dan ibu Flora datang untuk menemui Ms. Rose, juri lomba menyanyi yang akan diikuti Tiffany dan Luna. Kejadian itu dilihat oleh Elise, putri bapak kepala sekolah. Elise sudah tahu kalau Ms. Rose adalah juri lomba.

            “Sepertinya itu Ms. Rose, siapa ya orang yang sedang bicara dengan Ms. Rose itu? Bukankah Itu ibu Sarah dan Flora? Tapi kenapa Ibu Sarah dan Ibu Flora memberi Ms. Rose uang?”  batin Elise dalam hati. Ia pun segera merekam kejadian ketika ibu Sarah dan ibu Flora sedang memberikan uang kepada Ms. Rose.

            Sementara itu, Tiffany dan Luna sedang sibuk berlatih di ruang musik.

            “Lagu apa yang ingin kalian nyanyikan?” tanya Ms. Tory. Tiffany dan Luna hanya saling berpandangan. Mereka belum mengetahui lagu apa yang akan mereka nyanyikan. “Bagaimana kalau A whole new world?” usul Ms. Tory. Tiffany dan Luna mengangguk setuju.

            “Kalian bernyanyi dengan baik,” puji Ms. Tory ketika Tiffany dan Luna selesai menyanyi.

            “Terima kasih” ucap Tiffany dan Luna malu-malu.

***

            Hari-hari berlalu dengan cepat. Sekarang, semua murid yang mengikuti lomba sedang melakukan gladi bersih karena lomba akan dilaksanakan besok. Panggung dan meja juri sudah disiapkan. Ms. Tory mengatakan kalau Tiffany dan Luna akan tampil di urutan ke lima. Sedangkan Sarah dan Flora di urutan ke tiga.

            Sarah dan Flora gladi bersih terlebih dahulu. Seusai menontonnya, Ms. Tory memberi acungan jempol kepada Sarah dan Flora, padahal penampilan mereka tidak terlalu bagus. Namun, tidak ada yang tahu apa yang ada di hati Ms. Tory. Setelah itu, giliran Tiffany dan Luna untuk melakukan gladi bersih. Tiffany dan Luna bernyanyi dengan baik.

***

            Hari perlombaan pun tiba. Semua peserta sudah siap, Ms. Rose dan para juri sudah duduk di meja juri. Sementara di belakang panggung, Tiffany dan Luna merasa sangat gugup. Beruntung ada Luna menenangkannya.

            “Semua akan baik-baik saja, semangat! Kita harus memberikan yang terbaik!” ucap Luna memberi semangat.

            “Mari kita sambut penampilan dari kelompok pertama, Kayla dan Laura dari kelas 6A!” Terdengat suara MC memanggil kelompok pertama yang akan tampil. Kayla dan Laura segera naik ke atas panggung. Setelah itu, giliran Sarah dan Flora yang tampil. Mereka bernyanyi dengan genit, penonton yang bertepuk tangan untuk mereka tidak begitu banyak.

            Tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Tiffany dan Luna. “Kita panggilkan kelompok nomor 5, Tiffany dan Luna dari kelas 5B!” ucap MC. Tiffany dan Luna segera naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu A Whole New World dari film Aladdin. Mereka berusaha bernyanyi dengan baik. Setelah selesai beryanyi, mereka membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih. Tepuk tangan pun bergemuruh riuh dari penonton. Setelah itu, mereka turun dari panggung dan berlari menghampiri bu Hani, pengurus panti asuhan tempat Tiffany dan Luna tinggal.

            “Ma, aku sangat takut,” ucap Luna saat memeluk bu Hani.

            “Tidak apa-apa kalau kalian kalah, yang penting kalian sudah berusaha,” ujar bu Hani bijak.

            Tibalah saat pengumuman pemenang. Tiffany dan Luna berdiri dengan cemas dan tegang. Ms. Rose menyerahkan amplop pemenang pada MC.

            “Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Nama pemenang dalam kontes ini! Tetapi, sebelum itu saya akan memberitahu komentar para juri untuk para peserta. Ada Kayla dan Laura dari 6A, menurut juri kalian bernyanyi dengan baik, kalian juga baik dalam mengekspresikan wajah, Tapi kalian kurang kompak. Ayo kita berikan tepuk tangan untuk Kayla dan Laura! Lalu untuk kelompok………..”

            “MC-nya kebanyakan basa basi,” bisik Tiffany pada Luna. Luna hanya tersenyum sambil tertawa kecil.

            “Kelompok yang akan mewakilkan sekolah untuk lomba se-Jabodetabek adalah Sarah dan Flora, selamat!” ucap MC lantang.

            “Bagaimana mereka bisa menang?” tanya Luna dalam hati.

            “Kepada para pemenang harap naik ke atas panggung.” Sarah dan Flora naik dengan sombong dan muka pura-pura kaget dan terharu. Saat pembagian piala Sarah dan Flora terus melirik Tiffany dan Luna dengan tatapan sombong.

            Saat Ms. Rose akan memberikan piala pada Sarah dan Flora, Elise berlari ke atas panggung untuk membisikkan sesuatu pada MC. Kemudian Elise menunjukan sebuah video pada MC.

            “Tunggu-tunggu, berhenti dulu sepertinya telah terjadi sebuah kesalahan,” kata MC sambil menghalangi tangan Sarah yang akan mengambil piala yang diberikan Ms. Rose. “Ada yang harus saya bicarakan dengan Kepala Sekolah.”

           Kemudian Kepala Sekolah, MC, dan beberapa panitia berbincang-bincang. Tiffany melihat Ms. Rose terlihat takut. Apa yang terjadi? tanya Luna berkali-kali dalam hati.

            “Saya mendapat sebuah rekaman video dari anak saya, Elise. Dari video itu kita bisa melihat bahwa Ms. Rose berbuat curang,” jelas kepala sekolah. Semua penonton terkejut. “Di dalam video itu, ibu Sarah dan ibu Flora memberikan sejumlah uang pada Ms. Rose. Karena kecurangan itu Sarah dan Flora didiskualifikasi sebagai peserta dan akan di skors selama seminggu. Sedangkan Ms. Rose tidak akan menjadi juri lomba selama setahun. Pemenang lomba akan ditentukan oleh Ms. Tory,” tutur bapak kepala sekolah.

            “Tapi…” ucap Ms. Rose berusaha membela.

            “Keputusan ini sudah saya bicarakan dan pikirkan matang-matang,” tambah Kepala Sekolah. Ms. Rose, Sarah dan Flora turun dari panggung dengan rasa malu yang tak terkirakan. Ms. Tory membisikan pemenang pada MC.

            “Pemenang yang akan mewakilkan sekolah untuk lomba se-Jabodetabek adalah….” Kata MC Tiffany dan Luna berpegangan tangan berharap kali ini merekalah yang disebutkan MC. “Tiffany dan Luna! Selamat!” kata MC lantang. Luna melompat dan Tiffany tersenyum. Mereka kemudian naik ke panggung diberi piala, sertifikat, dan amplop berisi undangan lomba se-Jabodetabek. Kepala Sekolah naik ke panggung dan memberikan selamat pada Tiffany dan Luna. Kemudian mengambil mic dari MC.

            “Kepada Ms. Rose harap naik ke panggung dan meminta maaf” kata Kepala Sekolah. Ms. Rose naik ke panggung dengan rasa malu yang tak terkirakan.

            “Saya meminta maaf kepada semua peserta lomba dan juri-juri yang terhormat. Saya menyesal, dan saya berjanji tidak akan pernah mengulanginya” kata Ms. Rose memohon maaf. Para penonton menyoraki Ms. Rose.

            Setelah acara selesai Sarah dan Flora menghampiri Tiffany dan Luna.

            “Tiffany, Luna maafkan kami ya, karena sering mengejek dan mengganggu kalian,” kata Sarah. “Sekarang kami merasa sangat bersalah,” tambah Luna.

            “Aku sudah memaafkan kalian sejak lama,” jawab Tiffany. “Aku juga,” tambah Luna. “Mulai sekarang kita berteman ya” kata Luna.

***

 

 

Share This: