Pengalamanku Wall Climbing Bersama Indonesia Writing Edu Center

Oleh: Rifda Anindya Hidayati

Hari Minggu, 27 September 2015.

Aku sudah selesai mandi dan segera berpakaian. Aku memilih memakai celana training warna hitam, baju olahraga warna kuning, dan jilbab persegi dengan warna beragam.

Aku segera keluar dari kamar dan menyiapkan bekal, minum, alat tulis, dan handphone-ku ke dalam tas hitam dengan bulatan putih bergambar buah cherry.

Bekal yang kubawa adalah nasi putih dengan lauk ayam goring dan mi goring. Ada juga camilan wafer white coffee dan permen green tea apple flavour yang menggiurkan. Minumanku hanyalah air putih sebotol.

Sementara itu, adik-adikku pun rupanya sedang bersiap-siap. Mereka akan ikut aku. Mereka menyiapkan bekal, minuman, dan dua buah jeruk segar. Semua dimasukkan ke dalam plastik.

Tak lama kemudian kami, termasuk ayah dan ibuku, telah siap. Semua keluar menuju teras lalu menaiki mobil. Ayah pun mengemudi ke tujuan outing class IWEC, yakni Graha Famili, Surabaya, Class 5 Climbing, lantai 2.

Kami sampai di sana satu jam kemudian. Ifa, adikku yang kedua, rupanya tidur pulas. Ibuku memutuskan untuk menjaga Ifa di dalam mobil. Aku, Kamal (adikku yang pertama), dan ayah mencari tempat wall climbing.

“Permisi, Mbak, mau tanya. Tempat wall climbing di mana ya?” Ayah bertanya.

“Oh, itu, Pak. Yang tangga itu. Naik saja. Nah, di situ tempatnya,” jelas Mbak tersebut.

“Terima kasih ya, Mbak”.

Kami berjalan ke arah lokasi yang ditunjukkan oleh Mbak itu. Ternyata di atas masih sepi. Aku dan Kamal lalu berkeliling, mencoba mencari celah dari jendela yang ditutupi, agar aku dan Kamal tahu apa yang ada di dalamnya. Tetapi, tak ada celah sedikit pun.

Tak lama, Kiki, teman sekelasku di IWEC, datang bersama keluarganya. Mereka yang tahu tempat masih sepi, berkeliling sebentar.

Sementara aku melihat ke lantai bawah. Di lantai bawah lewatlah Azhura, Kak Leo, Kak Mahda, dan Kak Winta. Mereka berempat melihat ke arahku dan melambaikan tangan, aku pun demikian.

Ayah turun sebentar untuk memindahkan mobil dan parkir lebih dekat dengan tempat wall climbing. Aku dan Kamal turun. Di bawah aku bercakap-cakap dengan Azhura, Kak Winta, dan Kak Mahda.

Tak lama, aku ke atas lagi. Rupanya seorang petugas wall climbing sedang membuka pintu gedung. Aku langsung memberitahu mereka berempat yang ada di bawah.

“Kak, pintunya sudah dibuka. Ayo ke atas!”

“Oh ya. Ayo, kita ke atas Kak, Azhura,” ajak Kak Winta.

Aku segera masuk ke gedung bersama Kamal. Aku melihat seisi ruangan. Wow, keren sekali. Aku sudah tidak sabar untuk segera mencoba wall climbing.

Tak lama kemudian, semua berkumpul. Nama kami dipanggil satu persatu. Kami mendapat penjelasan tentang larangan ketika wall climbing, seperti: harus lepas jam tangan, harus ikat rambut yang panjang, tidak boleh menggunakan jaket, tidak boleh teriak-teriak dan berisik di arena, tidak boleh membawa camera atau handphone, kecuali yang diperbolehkan, dan masih banyak lagi.

Semua siswa IWEC masuk ke arena wall climbing. Pertama- tama, barisan diatur. Lalu, alat dipasang. Sebelum benar-benar mulai memanjat, kami foto bersama.

12079667_10153642774132171_4347561648552125001_n
Siswa-siswi IWEC berpose bersama para petugas wall climbing

Petugas pun mengajak kami untuk melakukan pemanasan. Saat pemanasan, Kak Lalu datang dan segera ambil bagian. Aku menoleh ke belakang dan tertawa kecil melihat Kak Lalu memakai sandal. Untuk alasan keamanan, seharusnya memakai sepatu olahraga. Ini biar tidak tergelincir saat turun dari puncak dinding panjat.

Selanjutnya, petugas menjelaskan pada kami cara memberi kode selama proses wall climbing. Kalau mau turun harus bilang apa, semua ada aturannya.

Kelompok pun dibagi. Aku kebagian di dinding kedua bersama Kak Windy.

Aku melihat banyak yang kesusahan ketika mau turun. Sedikit rasa deg-degan muncul juga. Sudah kubayangkan bagaimana jika aku nanti seperti mereka.

Satu persatu telah selesai. Tak lama kemudian, giliranku yang naik. Gugup, takut, gelisah, ragu-ragu, semua pikiran buruk muncul dan bercampur aduk. Tetapi, untunglah ini hanya percobaan, jadi tidak harus sampai puncak dinding panjat. Ketika mau turun, aku merasakan dinding panjat yang licin.

Kesempatan memanjat yang kedua, aku bertekad sampai puncak. Pikiran buruk menyerbuku. Satu persatu tonjolan kuinjak dan kupegangi. Tak terasa aku sampai juga di puncak. Aku segera memberikan kode pada petugas agar membantuku turun. Aku berusaha agar tidak terpeleset. Ketika sudah menapakkan kaki di lantai, petugasnya berkata, “Kamu bisa coba trek yang lain.” Aku mengangguk dan segera meninggalkan dinding yang tadi. Jari-jari tanganku capek, lemas, tetapi tetap semangat untuk mencoba yang lain.

Aku mencoba dinding yang lain. Sebelum itu, ibu memanggil dan menyuruhku berfoto di satu trek. Lalu ayah memanggil,

“Anin, kalau sudah coba yang itu, kita salat zuhur dulu. Terus pulang. Ayah nanti mau pulang naik kereta api setelah maghrib”.

Aku mengangguk lalu duduk di depan trek yang pertama, di belakang Hanun.

Giliranku tiba. Pikiran buruk lagi-lagi menyerang semangatku. Seperti tadi, tonjolan demi tonjolan kuinjak dan kupegang. Ifa dan Nayla (adik Kiki yang ketiga), memanggil-manggilku. Aku tak hiraukan. Kalau aku hiraukan, aku bisa kehilangan fokus. Bisa saja aku celaka dan terluka. Untung saja, aku abai. Dan seperti trek yang pertama, aku berhasil dan turun ke bawah dengan beberapa kali terpeleset.

Aku pun meminta izin pada Bunda Maylia, Kepala Sekolah IWEC, untuk pulang dan meminta dilepaskan alat yang tadi dipasang.

Aku sekeluarga ke masjid untuk salat zuhur. Setelah itu, aku pulang ke rumah dengan posisi tertidur pulas.

11187324_905892316171253_7265660644642087755_o

***

Share This: