BATAS DAYA

Oleh: Dian Permatasari (Staf Pengajar Menulis)

Negara ini telah memisahkan aku dan kamu. Bahkan, saat kamu meninggal, aku tak bisa menatap wajahmu untuk terakhir kali. Kabar duka kuterima lewat whatsApp yang dikirim Wati, adikmu. Mas Riski meninggal, Mbak. Aku lama termangu setelah membacanya. Sejak saat itu, banyak teman satu daerah bilang wajahku makin tirus.

“Wati ini mulai ikut-ikutan tren, sengaja diet,” Ratna berkomentar. “Sini lihat cekungan di bahumu sudah bisa diisi ikan mas, tidak?” usai mengatakannya ia terbahak lalu menarik bagian atas kaosku dengan kencang.

Tidak mendapat respon yang memuaskan dariku, ia beralih ke Dewi dan Rosmini. Bahkan Ana (nama lengkapnya Markonah), punya ide gila. Ia sungguh-sungguh bawa ikan kecil di sebuah kantong plastik. Lalu perlahan-lahan, ia masukkan ikan dan air itu ke tulang selangka Ratna. Mereka terkikik sambil merekam aksi konyol itu lalu mengunggahnya ke media sosial. Ikut meramaikan tagar #FishinCollarboneChallenge.

Meskipun begitu, aku merasa merekalah sahabatku. Teman seperjuangan di perantauan. Perihal kematian Mas Riski, aku masih belum siap menceritakannya. Pun aku tidak ingin mengganggu upacara pemakaman pasca dimakamkannya almarhum.

Saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiran. Pas sekali semua anggota keluarga majikanku sedang vakansi. Jika sedih seperti ini aku akan lebih banyak tidur, tempat favoritku adalah sofa ruang tamu. Benar-benar empuk, meski sedikit bau apek. Setidaknya lebih baik daripada beralaskan kasur lipat tipis, menyatu dengan bumbu-bumbu dapur dan juga serangga.

Maklum, majikanku cuma buruh kontruksi. Punya istri dan satu anak. Di Kwun Tong banyak orang memilih tinggal di rumah susun. Daripada punya petak rumah sendiri, pajaknya mahal. Kalau tidak sanggup bayar atau banyak tunggakan bisa-bisa kena relokasi seperti Pak Fung, pedagang mi langgananku. Kata tetangga-tetangga rumahnya mau dibangun hotel. Kasian. Yah, setidaknya nasibku lebih baik. Aku masih bisa tinggal di rumah yang ada atapnya. Di kota ini bisa dibilang paling banyak gelandangan, kalian bisa melihatnya lebih banyak di malam hari.

Jika diingat kembali, kamulah yang menyarankanku ke sini. Kamu yang suka melihatku berdandan dengan gincu merah dan tidak bau matahari. “Kasihan kamu, cah ayu kok nandur?” katamu.

“Memangnya mengapa, Mas? Wong aku anak bapak dan ibu. Lumrah kalau membantu menggarap tanah keluarga,” belaku.

“Apa tidak sebaiknya kamu ikut Dewi dan Rosmini ke Hongkong buat cari kerja? Gajinya besar. Semakin cepat kamu kerja dan dapat uang, semakin cepat kita menikah.”

Rasanya sedetik jantungku berhenti berdetak. Aku tidak menyangka sahabatku sejak kecil ini menyimpan harapan sedemikian dalam denganku. Rasanya aku semakin rindu ingin melihatmu. Menatap tahi lalat kecil yang ada di sudut kiri bibirmu. Begitu melenakan saat tersenyum.

Krett

Aku berjingkat dari tempatku telentang. Majikanku membuka pintu. Mereka basah kuyup. Si ibu mengomel-ngomel sambil menggoyang-goyangkan anaknya yang tengah menangis. Mantel yang tadi mereka kenakan juga ikut basah, mereka lemparkan ke arahku. Sepertinya agenda jalan-jalan mereka batal karena di luar sedang hujan angin yang lumayan kencang. Sebaiknya aku menggantung mantel-mantel ini agar cepat kering.

Kulihat mereka langsung membuka tudung saji, sepertinya mereka kelaparan. Buru-buru kuhangatkan telur dan menyiapkan dua mangkuk kecil berisi nasi untuk majikanku. Si ibu mendorongku agar menjauh dari meja makan. Syukurlah mereka makan dengan lahap.

Sebelum kabar meninggalnya Mas Riski datang, wajah bahagia majikan yang tengah makan atau puas dengan keadaan rumah yang rapi adalah prestasi buatku. Makanya dua tahun bekerja tidak terasa. Entahlah, kini perasaan itu lenyap.

Satu-satunya alasanku di sini adalah menikah dengan Mas Riski. Lagipula ibu juga mengharapkan aku pulang, aku tak tega mendengar rekaman suaranya di WhatsApp. Lirih sekali, dengan jelas kudengar ibu menahan isak. Paling jelas saat mengucap salam sebelum menutup telepon.

Usai membersihkan makanan, aku mengirim pesan ke WhatsApp Mas Budi, orang yang jadi penyalurku ke sini. Kata Mas Budi kontrakku selesai akhir tahun ini. Awal tahun aku bisa kembali pulang ke Kulon Progo. Dengan konsekuensi total gajiku dua tahun hanya dibayarkan setengahnya untuk tiket pesawat dan potongan-potongan yang lain. Tidak apa-apa, demi menebus rindu.

Aku di sini setelah menanti lima purnama. Bapak dan ibu menangis haru saat mereka menjemputku di Bandara Adi Sucipto. Ibu memelukku sangat erat. Sementara bapak yang kutahu berkepribadian keras, menitikkan air mata.

Perjalanan menuju rumah membuat perasanku membuncah karena bahagia. Benar kata almarhum kakek, keluarga dapat menjadi rumah jika telah merasakan lamanya bepergian. Apalagi pergi untuk merasakan duka. Kakek merasa begitu saat ia berhasil tiba di rumah setelah berbulan-bulan dalam penyekapan sel tentara Jepang. Saat itu, tiba di rumah dan  bertemu keluarga adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Hijaunya sawah yang dilintasi anak-anak sekolah, sesekali bertemu dengan warga yang baru pulang dengan membawa arit dan menggiring kerbau, benar-benar kurindukan. Bayang-bayang Mas Riski seketika terbit di pikiranku.

“Di mana Mas Riski dimakamkan?”

Wajah ibu menegang. Kemudian melunak, “Mau langsung mampir?”

Aku mengangguk. Kuarahkan tatapan ke luar jendela, menyembunyikan genangan air mata di pelupuk mataku. Perjalanan ke tempat Mas Riski dimakamkan terasa begitu memilukan.

Bapak memarkir mobil di depan sebuah pemakaman yang tak kukenali sebelumnya. “Di sini Bu? Seingat Wati dulu makam dusun kita tidak seperti ini. Apa diperbesar ya?”

“Iya, Nduk. Sekarang ini jadi pemakaman beberapa dusun.”

Bapak berjalan mendahului aku dan ibu. Lalu berhenti di salah satu nisan tak jauh dari pintu masuk makam. Lututku mendadak lemas. Aku hanya bisa menangis. Ibu mengusap punggungku perlahan. Aku semakin menyesal tak menyiapkan bunga untuk ditaburkan.

“Kita ke rumah orangtuanya Mas Riski ya Pak, Bu. Wati ingin takziah.”

Kematian Mas Riski begitu nyata. Sepanjang perjalanan aku berusaha mengais-ngais kembali ingatanku tentangnya. Biar bagaimanapun keberadaan Mas Riski sungguh tak ternilai, ia adalah pelindungku baik saat masih di sekolah, di sanggar tempat kami mengaji, pun saat aku mulai akrab dengan petak kecil sawah orangtuaku. Namun, kenyataan bahwa impian kami kandas, sia-sia kusesali.

Tak terasa sampailah kami di sebuah masjid yang cukup besar. Di halamannya ramai anak-anak kecil tengah bermain. Sementara orang dewasa memadati bagian dalamnya. Di samping kanan masjid berjajar kompor dan ada aktivitas memasak di sana. Ah, sedang ada hajatan kah?

“Wati!” aku nyaris tak mengenali seorang perempuan yang memekik memanggil namaku. Ia peluk aku begitu erat. “Ini Bu Atun, ibunya Riski. Masa lupa?”

Buru-buru aku menjawab, “Ti-tidak Bu, Wati yang pangling, kok makin cantik,” ujarku setengah berbohong. Nyatanya ibu Mas Riski jauh lebih kurus dan kantung matanya begitu lebar dan hitam. Belum sempat aku bertanya perihal kematian Mas Riski, Bu Atun memberondongku dengan pertanyaan seputar pekerjaanku di Hongkong. Aku memberikan beliau terusan warna biru sebagai oleh-oleh, beliau senang sekali. Kue-kue yang kubeli di bandara kubagikan untuk anak-anak yang bermain. Momen berbagi ini membuatku terhanyut dalam kebahagiaan.

Langit mulai menampakkan gurat oranyenya. Bapak dan ibu mengajakku pulang. Di tengah perjalanan menuju rumah tampak pekerja-pekerja menggunakan helm dan rompi proyek seperti yang pernah kulihat di Hongkong. Mereka berjaga di rumah-rumah setengah hancur dengan mobil-mobil pengeruk berukuran besar. Seperti halnya yang dilakukan para pekerja di rumah Pak Fung.

Aku tak lagi menemukan Desa Temonku yang dulu jadi tempatku bertumbuh bersama teman-teman dan Mas Riski. Rumah-rumah itu kini rata dengan tanah. Anganku melayang beberapa bulan lalu saat aku menelpon Mas Riski. Ia bilang sekarang ia punya teman baru dari kota, banyak mahasiswa ke desa. Hampir setiap malam mereka berdiskusi tentang melindungi desa. Cara bicara Mas Riski terkesan makin pintar, “negosiasi” katanya. Aku anggap itu sebagai kemajuan untuk Mas Riski. Sejak saat itu, sering pesanku hanya dibaca olehnya. Itu adalah kenangan terakhir yang bisa kuingat, obrolanku dengan Mas Riski.

Kini, entah ke mana Yadi, Hidayat, Nurul, dan teman-teman yang lain. Bahkan sekolah kami tak dapat kutemukan reruntuhannya. Aku melewati pagar kawat besi dengan perasan hampa. Sepanjang jalan yang kutemukan hanya palang-palang berukuran besar: DI SINI DIBANGUN NEW YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT.

Share This: