Fraktal Julia
by Kiara Kalyani
Diterbitkan Mei 2026
Disunting oleh Nusantara Yusuf & Fairuza Hanun
Novel sci-fi, 128 halaman
dalam Bahasa Indonesia
ISBN: [belum tersedia]
-
Tiga tahun setelah mengirim putrinya ke linimasa lain, Profesor Katz menghapus identitasnya dan hidup sebagai Dr. Johnson, berusaha melupakan kesalahan yang menghantuinya. Ketika Kelompok Ilmuwan Tak Terlihat (KITT) merekrutnya untuk menguji mesin waktu terbaru, Katz berhadapan dengan Dr. Julia Spade, adik mendiang istrinya yang percaya bahwa waktu harus dilindungi, bukan dikuasai.
Ambisi Katz untuk mengendalikan waktu memicu keretakan pada realitas yang mengancam dunia. Julia menyadari bahwa Katz bukan hanya seorang ilmuwan, melainkan seorang pria yang ingin menjadi Tuhan. Dalam perlombaan Julia melawan waktu, pengkhianatan, dan luka masa lalu, muncul satu pertanyaan.
Jika waktu bisa dikendalikan, siapa yang pantas menguasainya?
-
TIMELINE UTAMA
Selasa, 8 November 2050 - 19:15
Profesor Katz duduk di ruang tamu rumahnya, melingkarkan jari-jarinya di sekitar gelas berisi teh hangat. Uap tipis mengepul dari permukaan cairan, mengaburkan sebagian wajahnya yang telah dipenuhi goresan waktu. Di hadapannya, Zaria–putri satu-satunya–berdiri dengan ekspresi tegang di wajahnya.
Ruang tamu itu sunyi, hanya diiringi suara detik jam tua yang menggantung di dinding. Lampu gantung menerangi ruangan, menyebarkan cahaya keemasan yang menyentuh rak-rak buku berdebu dan tumpukan dokumen tua. Di luar jendela, hujan turun pelan-pelan, memantulkan cahaya kota yang remang-remang dan menciptakan bayangan aneh di balik tirai tipis.
"Zaria, Ayah memahami kekhawatiranmu, tapi kamu harus percaya padaku. Mesin waktu sudah dalam kondisi baik untuk diserahkan kepada pemerintah besok," Professor Katz mencoba meyakinkan putrinya.
Zaria menggeleng keras. "Ayah, aku tidak bisa percaya bahwa Ayah mau melakukannya. Mesin waktu itu belum sempurna, Ayah tahu itu."
Professor Katz menghela napas dalam-dalam. "Zaria, kamu harus mengerti. Pemerintah perlu melihat kemajuan proyek ini. Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut."
Namun, Zaria tetap tak tergoyahkan. "Aku tidak akan setuju, Ayah. Aku tidak akan membiarkan Ayah melakukan kesalahan besar ini."
Perdebatan itu terus berlanjut, semakin memanas. Hingga akhirnya, Professor Katz merasa kesabarannya habis. "Kamu tidak mengerti apa-apa, Zaria. Kamu selalu menentangku tanpa alasan yang jelas!" desaknya, ekspresi kesal terpancar dari wajahnya.
Zaria menatap ayahnya dengan tajam. "Aku menentangmu karena aku peduli, Ayah. Aku tidak ingin melihatmu gagal."
Professor Katz merasa kecewa. "Kamu sungguh tidak menghargai usahaku, Zaria. Aku berharap kamu bisa mendukungku."
Keduanya terdiam. Atmosfer ruangan terasa semakin tegang. Tiba-tiba, Professor Katz bangkit dari kursinya, mengejutkan Zaria.
"Sudahlah, aku tidak bisa berdebat lagi denganmu. Aku sudah membuat keputusan," ujarnya dengan suara penuh keputusasaan.
Zaria menatap ayahnya dengan tatapan penuh penolakan. "Ayah, tolong dengarkan aku!"
Namun, Professor Katz tampak tidak mau mendengarkan lagi. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju laboratorium tempat mesin waktu disimpan. Tanpa ragu, ia mulai mengatur koordinat dan parameter yang diperlukan dan mendorong Zaria, mengirimnya ke timeline lain.
Zaria mencoba berteriak memprotes, tetapi sudah terlambat. Cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan. Ketika cahaya itu reda, Zaria sudah lenyap.
Professor Katz berdiri di tengah laboratorium yang kini sepi, hatinya merasa campur aduk antara kesedihan dan kemarahan. Ruangan itu diselimuti keheningan yang menusuk, begitu hening hingga jarum jam di pojok ruangan terdengar seperti dentuman. Lampu-lampu di langit-langit berkedip pelan, memantulkan cahaya pucat di atas lantai logam yang dingin dan nyaris tak berdebu. Dinding-dindingnya terbuat dari baja abu-abu, dengan panel-panel kontrol yang berkelip perlahan, seolah mesin-mesin di dalamnya sedang bermimpi. Ia merasa tak berdaya, menyesali tindakannya yang telah membuatnya terpisah dari putrinya.
Beberapa saat yang lalu, ia merasakan amarah, kecewa, dan bahkan tertawa layaknya orang gila. Namun, dalam hitungan menit, ia terkejut dengan perlakuannya sendiri. Menangis dan berteriak di ujung ruangan.