To Be One

by Rania

 

Diterbitkan 2021

Disunting oleh Maylia E. Sutarto & Farah Fakhirah
Novel, 114 halaman
dalam Bahasa Indonesia
ISBN: 978-623-7716-57-0

  • “Kalau kamu yang ikut kan seru. Mortal enemies. Ayo maju, Sat. Buktikan bahwa kamu memiliki kelebihan selain jadi tukang angkat barang dan tukang reparasi speaker.”

    Satya punya dendam pribadi pada kakak-kakak pengawas MOS, maka, ketika ia menjadi senior, ia memutuskan untuk ikut organisasi sekolah. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Yura — teman masa kecilnya yang menyebalkan dan pemarah. Persaingan mereka bahkan sampai ke tingkat pemilihan ketua OSIS. Saat permusuhan sedang sengit-sengitnya, uang OSIS hilang.

    Seseorang mencurinya, dan Yura tertuduh telah mengabilnya.

    Sekarang Satya, Yura, dan teman-teman lainnya harus bekerja sama mencari siapa pencuri uang ini.

  • Maret, 2010

    “Aku boleh ikutan main?”

    Sekumpulan anak laki-laki itu menoleh ke arah kiri—menatap gadis bergaun bunga-bunga dengan rambut dikuncir dua itu—lalu tertawa menyeringai.

    “Ih... kamu kan cewek. Nggak usah ikutan, nanti jatuh, terus nangis.” Yang diejek merengut tidak terima.

    “Aku nggak akan nangis kok!”

    Dan karena sekumpulan anak yang berumur dua atau tiga tahun lebih tua dari gadis itu tidak sedang ingin berdebat, akhirnya mereka membiarkannya ikut bermain. Hari itu mereka akan bermain petak jongkok.

    Dan benar saja, permainan baru saja dimulai, dan si gadis kalah suit. Ia menjadi pengejar. Sayangnya lawannya tak seimbang–sekumpulan anak laki-laki yang larinya jauh lebih cepat darinya. Ujungnya seperti akhir cerita yang selalu bisa ditebak, gadis itu bersusah payah lari mengejar, dikecoh, kemudian jatuh, lalu menangis.

    Semua anak laki-laki sudah menebak akhir permainan. Mereka bukannya membantu, tapi malah lari. Meski begitu, itu bukan akhir cerita permainan. Seperti yang biasanya ada di pembukaan film-film romansa remaja yang *cringe*, kemudian akan ada anak laki-laki yang menolong, memberi obat, lalu mengantar pulang.

    Memang, dan orangnya adalah aku, yang baru saja disuruh oleh sekumpulan anak laki-laki besar tadi untuk putar balik dan sayangnya aku memilih untuk berjalan terus. Aku mengantarkan gadis yang ditinggalkan dengan olokan ‘si cengeng’, pulang ke rumahnya. Sementara gadis itu memperkenalkan dirinya kepadaku dengan sebutan, Yura. Tokoh utama perempuan dalam cerita itu. Antagonis, menurutku. Kalau menurut kalian, sih, aku tidak tahu.

Previous
Previous

Geng Dalam Gelembung

Next
Next

Amaryllis