MENEMUKAN NAMA SANG RAKSASA

Oleh: Renata Vo (Siswa IWEC Jakarta)

“Daah…” Nidia melambaikan tangan kepada warga desa. Dia adalah satu-satunya anak perempuan yang melakukan perjalanan keluar desa sendirian. Sebenarnya Nadia tidak mau pergi, tapi dia harus melakukan perjalanan ini demi mencari orangtuanya yang telah meninggalkannya sejak kecil. Merasa kasihan, warga desa akhirnya memutuskan untuk merawat Nadia. Ketika Nadia dewasa, warga desa menyuruhnya pergi berkelana mencari orangtuanya. Tapi cerita ini bukanlah tentang cerita Nidia mencari orangtuanya. Ini adalah cerita Nidia dan Raksasa.

Ini adalah hari ketiga Nidia pergi meninggalkan desanya. Seharusnya dia sudah menemukan sebuah desa, tapi ternyata desanya masih jauh. Saat dalam perjalanan dia menemukan sebuah perkemahan besar. Ternyata desa yang ingin dia kunjungi telah diserang oleh Raksasa dan penduduk desa tersebut sedang mengungsi. Pada awalnya Nidia ingin memutar kembali ke desanya, tapi dia baru ingat bahwa perbekalannya habis sehingga tidak mungkin bisa kembali ke desanya.

Akhirnya Nidia pun memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan mencari keberadaan sang Raksasa. Banyak orang yang mengatakan dia gila, tapi Nidia tidak peduli. Ketika dalam perjalanan, ada seorang anak laki-laki berusia sekitar satu atau dua tahun lebih tua darinya yang ingin ikut mencari raksasa. Anak laki-laki tersebut memiliki kulit putih pucat dan rambut berwarna perak keputihan, sangat berbeda dengan Nidia yang pipi, bibir, dan rambutnya berwarna kemerahan.

Bagi Nidia, perjalanan menemui Raksasa ini dia lakukan untuk membebaskan orangtuanya karena kabarnya mereka diculik oleh Raksasa sebagai sandera.

“Hai, jadi kenapa kamu ingin pergi menemui Raksasa?” tanya anak laki-laki itu setelah mereka memulai perjalanan ke tempat Raksasa. “Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Namaku Nidia,” jawab Nidia sedikit terkejut karena mengira bahwa teman barunya ini anak yang pendiam.

“Aku Miki. Oh ya, bukankah nama Nidia itu berasal dari bahasa Latin yang berarti sarang, benar bukan? Ngomong-ngomong kamu belum menjawab pertanyaanku yang pertama.” Miki melontarkan banyak pertanyaan kepada Nidia, namun Nidia memilih tetap diam meski wajah Miki terus menatapnya meminta jawaban dari Nidia. Mereka masih saling diam. Sesekali Miki masih mencuri pandang ke arah Nidia.

“Hei, bisakah kamu berhenti menatapku diam-diam? Aku merasa terganggu, tau!” Wajah Nidia mendongkol, dia mempercepat langkahnya ddan berjalan di depan Miki. Perjalanan mereka terasa lebih cepat daripada yang mereka perkirakan. Mereka telah tiba di tepian hutan yang mengurung sebuah bukit tinggi  yang tampak menjulang di tengah-tengahnya, bukit batu yang ditumbuhi pohon-pohon besar menjulang.

“Kau akan menembus hutan ini?” tanya Miki sesaat setalah mereka tiba di tepi hutan.

“Tentu saja, kita sudah berjalan sejauh ini. Lagipula ini adalah tujuanku. Kenapa? Kamu takut?” Mata Nidia melirik sinis kepada Miki.

Kali ini kesabaran Nidia terkikis habis. Di dadanya hanya ada dendam yang membara. Sepanjang perjalanan ia tidak pernah menunjukkan sikap yang baik kepada Miki.

“Tidak. Aku tetap akan menemanimu. Aku yakin kamu pasti akan butuh pertolonganku,” jawab Miki yakin.

Tanpa berpikir panjang, Nidia langsung melangkahkan kakinya memasuki hutan yang lebat. Sudah hampir sore, matahari sebentar lagi jatuh ke ufuk barat. Karena sebentar lagi malam, akan Sangat berbahaya jika masuk ke wilayah tempat raksasa berada dalam keadaan gelap. Nidia memutuskan untuk membuat tenda yang tersembunyi di antara semak tinggi setelah tiba di kaki bukit.  

***

Pagi itu Nidia dan Miki mulai memanjat dinding tebing bukit batu. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Begitu juga dengan Raksasa. Nidia begitu cekatan merayap diantara bebatuan yang menonjol dan menyekung, diikuti Miki di sebelahnya.

Begitu tiba di mulut sarang Raksasa, Nidia langsung menerjang pintunya. Raksasa yang masih terlelap dibuatnya terlompat kaget, terbangun oleh suara gedoran Nidia. Dia membuka pintu secara tiba-tiba hingga membuat tubuh Nidia hampir terhempas ke dalam rumah.

Tanpa pikir panjang, Nidia langsung memberondong sang Raksasa dengan banyak pertanyaan. Raksasa merasa heran dengan Nidia yang tak takut sedikitpun dengannya padahal ia datang tanpa membawa senjata apapun. Raksasa kemudian duduk dan mendengar berbagai pertanyaan yang dilontarkan Nidia, sementara Miki tercengang memandangi keduanya dari ambang pintu. Dia masih mematung melihat sikap Nidia yang sangat aneh, bahkan lebih aneh dari manusia manapun yang ditemuinya.

Pada awalnya sang Raksasa tidak ingin berbicara dengan mereka, tetapi setelah terus- menerus dipaksa oleh Nidia, akhirnya ia pun memutuskan sebuah kesepakatan. Sang Raksasa akan melepaskan orang-orang yang telah ia culik asalkan Nidia dan Miki bisa menemukan namanya. Ternyata sang Raksasa marah karena dia tidak mengingat namanya. Dia pun meluapkan amarahnya kepada warga desa. Itulah mengapa penduduk desa menjulukinya raksasa jahat dan pemarah.

Nidia dan Miki pun bersedia untuk melakukannya. Mereka pun diberi bekal sangat banyak dan memulai perjalanan mereka ke arah barat seperti petunjuk yang tertulis di sebuah batu yang berada tak jauh dari sarang si Raksasa. Nidia menyumpah serapahi siapa pun yang telah membuat Raksasa melupakan namanya.

Pada petunjuk tertulis bahwa untuk menemukan nama sang Raksasa mereka harus pergi ke arah barat dan mencoba mencari kurcaci kecil berbaju merah yang bertuliskan sebuah huruf di dada mereka.

***

Nidia dan Miki telah menempuh perjalanan cukup jauh, namun belum juga bertemu dengan kurcaci berbaju merah. Mereka pun mulai panik karena tidak tahu harus mencari ke mana lagi. Mereka berjalan dan terus berjalan sampai hampir kehabisan bekal makanan. Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak di bawah tempat mereka duduk beristirahat. Ternyata seekor kura-kura. Saat kura-kura berjalan, tubuh Nidia dan Miki ikut bergerak. Rupanya yang mereka duduki baru saja adalah tempurung kura-kura yang tertidur.  

Nidia terkejut dan segera bangkit. Matanya menangkap sebuah guratan di atas tempurung itu. Mereka menemukan sesuatu, ternyata sebuah petunjuk arah. Keduanya akhirnya melanjutkan perjalanan sesuai arah yang tertulis di atas tempurung kura-kura.

Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan memasuki hutan, Nidia menemukan sebuah petunjuk baru.

“Mmm… Miki, itu apa?” Nidia menghentikan langkahnya dan menujuk sesuatu. Ternyata pahatan huruf di sebuah pohon redwood. Pahatan yang berbentuk kurcaci dengan huruf G di bagian bajunya. Keduanya tentu saja semakin bersemangat dan langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh bentuk pohon itu, mereka tidak menyadari bahwa di atas pohon tersebut ada seorang kurcaci yang telah menunggu mereka.

“Hai.” Sapa kurcaci mengagetkan Nidia dan Miki, membuat mereka jatuh terjengkang. Kurcaci tersebut tidak meminta maaf tapi malah tertawa. Setelah tawanya mereda, dia mulai meneriakkan sebuah teka-teki membuat hati Nidia mendongkol. Dia teringat beberapa kali bersikap tidak sopan kepada Miki – teman perjalanannya yang setia menemaninya.

“Pergilah ke arah di mana kamu akan menemukan kolam air dengan warna yang kubenci,” Kurcaci itu terus menerus mengulang ucapannya hingga kuping Nidia dan Miki panas mendengar teka-teki itu.

“Apa, itu?” tanya Nidia. Dia merasa bingung. Tapi Kurcaci kecil itu terus mengulangi kalimat itu dan membuat Miki mulai berpikir keras menebak maksud teka-tekinya. Dia tidak berbicara sama sekali dalam beberapa menit.

“Menurutku, inilah teka-tekinya. Jawabannya adalah ke arah laut. Kurcaci ini memakai baju berwarna merah, jadi warna merah adalah kesukaannya. Sedangkan merah adalah simbol warna api. Dan api bermusuhan dengan air, dan air disimbolkan dengan warna biru. Sedangkan laut itu biru dan dia bilang di mana kita akan menemukan banyak warna yang tidak dia sukai,” gumam Miki tiba-tiba akhirnya bersuara.

Ternyata sejak tadi, Miki sedang berpikir tentang apa arti dan jawaban teka-teki sang Kurcaci. Kurcaci pun terlihat sangat senang. Kemudian dia memberi Nidia dan Miki banyak bekal makanan. Berbekal makanan pemberian kurcaci, mereka memulai perjalanan menuju laut.

Tapi kali ini jalan yang mereka lalui berbeda dengan sebelumnya. Tidak banyak pohon di pantai, dan semua pohon yang ada sudah mereka teliti satu persatu, namun mereka tdak menemukan petunjuk apapun. Nidia dan Miki mulai gelisah. Mereka takut tidak akan bisa menemukan petunjuk lainnnya. Mereka mulai mencari cara lain. Berhari-hari mereka menginap dan mengitari sekeliling pantai laut itu. Tapi belum juga menemukan petunjuk berikutnya.

Pagi itu mereka sedang memanjat bebatuan supaya bisa melihat pantai dan lautan lebih jelas. Namun, tiba-tiba Nidia jatuh terperosok ke dalam celah bebatuan. Sebenarnya, Nidia memang sudah sering jatuh tapi kali ini berbeda. Ternyata di dalam celah bebatuan itu terdapat sebuah batu bewarna hitam yang dipahat dengan bentuk kurcaci dan terdapat pahatan huruf ‘I’ di bajunya.

Sama seperti sebelumnya, di antara celah yang merekah itu, sudah ada kurcaci yang menunggu. Kurcaci itu mencoba untuk mengagetkan mereka. Miki sebenarnya sudah tidak kaget lagi tapi dia tetap terjatuh ke dalam celah batu. Kurcaci pun mulai mengucapkan sebuah teka–teki.

“Di mana tempat yang memiliki banyak warna putih?” ucap Kurcaci memberi tebakan.

“Hmmm … yang bisa aku pikirkan cuma salju tapi kan ini belum waktunya musim dingin,” ucap Miki sambil menepuk-nepuk baju dan rambutnya yang masih kotor karena pendaratannya yang kurang mulus tadi.

“Putih?” Nidia bingung.

“Aku pernah membaca di sebuah negara yang jauh. Disana terdapat sebuah legenda yang mengatakan bahwa ada seeokor kucing berwarna putih yang tinggal berkelompok dalam jumlah yang besar. Dan jika mereka berkumpul maka di akan ada banyak warna putih,” Miki menjelaskan dengan nada yang tidak sabaran.

“Kalau padang bunga lily gimana? Kan banyak warna putihnya juga,” ujar Nidia tiba-tiba.

“Boleh jadi, kalau gitu ayo kita pergi.” Mereka pun mulai mencoba memanjat keluar dari lubang itu setelah diberi lagi bekal makanan oleh si Kurcaci. Mereka pun memulai kembali perjalanan menuju sebuah padang bunga lily.

***

Keesokan harinya, Nidia dan Miki terbangun. Cahaya matahari bersinar begitu menyilaukan. Nidia kemudian memanjat sebuah pohon tertinggi untuk memastikan cahaya putih apa yang berkilau bersamaan dengan matahari yang bersinar.

Begitu Nidia sampai di atas pohon, ia melihat sebuah padang bunga dengan warna putih  yang terbentang luas. Ia sangat gembira dan segera turun dari pohon lalu mencari Miki. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di padang bunga lily. Saat tengah berjalan, tiba-tiba ada mendorong kaki mereka hingga terjatuh ke depan dan terantuk pohon birch bonsai yang tingginya tak jauh lebih tinggi dari tanaman bunga lily. Batang pohon birch yang kokoh dan membundar lebar itu mempunyai pahatan kecil berbentuk kurcaci sama seperti yang yang mereka jumpai sebelumnya, namun ukurannya lebih kecil. Selain itu, bentuk kurcaci itu dipahat di pohon birch bukan redwood. Sekarang huruf yang dipahat di bajunya adalah huruf ‘L’. Tapi ada satu hal lagi yang berbeda kali ini, mereka tidak disambut dengan teka-teki melainkan sebuah sapaan.

“Halo, aku Twood. Aku dikirim Raja Kurcaci untuk menjemput kalian dan mengantar kalian ke Kerajaan Kurcaci,” sapa Kurcaci itu ramah. Twood terlihat seperti manusia laki–laki berbadan kecil tapi gendut. Ia memakai jas, celana, serta topi berwarna ungu dengan dasi kupu-kupu berwarna kuning terang.

Nidia dan Miki pada awalnya tidak mau, tapi setelah diberi tahu bahwa Kurcaci itu adalah utusan Raja yang membuat sang Raksasa melupakan namanya, mereka akhirnya mau mengikuti Kurcaci tersebut.

Setelah sampai di sebuah hutan yang indah di balik sebuah gerbang yang dihalangi oleh aliran air terjun, mereka disambut dengan hangat oleh Raja Kurcaci.

“Selamat datang, selamat datang.” Si Raja Kurcaci merentangkan lengan tangannya menyambut Nidia dan Miki. “Maafkan aku, jika kalian harus melalui ini semua.” Nidia dan Miki saat memasuki ruangan tahta di Istana Kurcaci. Nidia dan Miki memandangi sekelilingnya dengan terkagum-kagum.

“Apa maksud Yang Mulia membawa kami ke istana ini?” Miki membuka percakapan dengan sopan. Sekali lagi Miki melakukan bow sebagai bentuk hormat.

“Maksudku adalah aku ingin minta maaf karena desa kalian menjadi hancur karena kemarahanku pada si Raksasa. Aku telah membuat Raksasa itu lupa namanya sendiri karena dia sudah berbuat tidak sopan padaku. Tapi sekarang aku sudah memaafkannya. Jadi bawalah kertas ini yang bertuliskan namanya untuk mengingatkanya. Dan bawalah beberapa kantung emas ini untuk kalian bagikan kepada penduduk desa supaya mereka bisa memperbaiki rumah-rumah mereka kembali,” jelas si Raja Kurcaci yang baik hati itu.

Setelah Nidia dan Miki berpamitan , mereka diantar oleh Twood dan beberapa kurcaci lainnya kembali ke desa Miki. Tak lupa Nidia dan Miki membagikan emas-emas pemberian Raja Kurcaci dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal si Raksasa untuk menyerahkan selembar kertas bertuliskan nama Raksasa itu. Mereka berdua pun dijadikan warga terhormat di desa. Selain itu kembali diterima oleh desa dan mempunyai tempat untuk tinggal kembali.

***

Sampailah Nidia dan Miki di tempat tinggal sang Raksasa. Rumah tersebut tinggi menjulang sekitar tiga puluh kali lrbih tinggi dari tinggi badan keduanya itu, terlihat lengang. Asap masih tampak mengepul dari cerobong di atas dapur. Nidia kemudian mengetuk pintu tebal rumah si Raksasa. Beberapa saat kemudian, muncul si Raksasa dari balik pintu. Nidia segera menyodorkan kertas pemberian Raja Kurcaci. Tak lama raut muka raksasa besar itu berubah. Tawanya meledak. Ia  tertawa begitu senang setelah membaca isi kertas itu. Ternyata nama si Raksasa itu adalah GILES.

“Namaku, Giles!” kata si Raksasa sambil berjingkrak senang. “Terimakasih ya …” Giles meraih tangan Nidia dan menjabatnya erat.

“Nah, sekarang, seperti janjimu, Kau harus membebaskan seluruh desa di sekitar bukit ini. Jangan lagi memporakporandakan desa mereka. Dan tentu saja, semua orang desa yang masih Kau tawan, segera bebaskan!” kata Nidia tegas. Matanya menatap tajam pada Giles.

“Baik, ayo ikut aku.” Kata Giles.

Nidia dan Miki mengikuti Giles menuju ke sebuah rumah yang ukurannya sekitara 10x lebih kecil dari rumah milik Giles. Kemudian, Giles mengeluarkan sebuah kunci dan memasukkannya pada lubang kunci pintu rumah.

Pintu terbuka lebar. Nidia pun terkesima. Puluhan manusia berada di dalamnya. Tetapi meski begitu banyak manusia di dalamnya, rumah itu tidak terdengar riuh dari luar.

“Kalian semua aku bebaskan. Ini semua berkat Dia!” Giles menunjuk pada Nidia dan Miki.

Spontan semua orang berteriak gembira. Suasana menjadi gaduh, karena mereka semua sibuk membereskan apapun yang bisa dibawa ke rumah masing-masing.

Nidia mengamati dari ambang pintu. Dari kejauhan dirinya seperti mengenali seseorang. Laki-laki dan perempuan itu berdiri menatap ke arah Nidia. Kemudian mereka berjalan mendekati Nidia.

“Kau … Nidia?” Perempuan yang bisa dibilang berusia sekitar ibu Nidia itu, membelai wajah dan rambut Nidia. Seolah tak percaya, laki-laki itu mengeluarkan sebuah kantong berserut dari saku celananya. Kemudian dia mengeluarkan selembar foto dan disodorkan ke Nidia.

Nidia menerima foto itu dan melihatnya. Itu adalah foto yang sama persis denga foto masa kecilnya yang ia simpan.

“Siapa kalian?” tanya Nidia.

“Kami orangtuamu, Nidia.” Perempuan itu menangis.

“Jadi, kalian Ibu dan Ayahku?” Nidia memandang mereka berdua dengan raut bahagia.

Nidia menghambur ke pelukan ayah dan ibunya. Ketiganya berpelukan. Sedangkan Miki dan Giles memandang dengan mata bahagia melihat kebahagiaan keluarga yang akhirnya dipertemukan kembali.

“Nidia, aku minta maaf ya? Karena ulahku, kamu jadi berpisah dengan ayah dan ibumu,” ucap Giles.

Nidia mengangguk, “Semua sudah selesai, Giles. Tak perlu lagi dipermasalahkan. Aku sudah bahagia.”

***TAMAT***

Share This: