Nugi dan Peri Bunga

 

Oleh: Uswatun Hasanah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)

            Malam ini Nugi tidak bisa tidur. Ia memikirkan esok hari. Akan ada lomba lari di sekolah, tapi hari ini justru satu-satunya sepatu yang ia miliki solnya mengelupas. 

            Dari atas tempat tidur, Nugi memandangi sepatu yang tergeletak di lantai tepat di samping lemari bajunya. Dulu saat baru menerimanya, sepatu itu berwarna merah dengan garis putih sebagai aksen di kedua tepiannya. Karena hampir setiap hari dipakai, kini warnanya berubah jadi oren, dan beberapa bagian sepatu itu mulai mengelupas. Apalagi karena kejadian tadi siang, ia berpikir tidak lagi bisa memakai sepatunya.

            Tadi siang sepulang sekolah, Nugi dikejar anjing nenek Brenda saat lewat di depan rumahnya. Karena tidak hati-hati ia tersandung dan membuat sepatunya robek. Lubang besar menganga di bagian depan sepatunya. Nugi sebal sekali, Nenek Brenda sering lupa mengunci pintu pagarnya, membuat anjingnya bisa kabur kapan saja dan mengejar orang yang lewat. Termasuk Nugi.

            Saat tengah meratapi nasib sepatunya, tiba-tiba Nugi teringat sesuatu. Ia bergegas keluar ke arah dapur, mengambil segelas air putih lalu kembali lagi ke kamarnya. Ia menyiramkan air yang ia ambil ke atas pot kecil berisi tanaman dengan satu kuncup bunga berwarna putih yang ia letakkan di dekat jendela. Bunga malang yang ia temukan di depan pagar rumah besar saat pulang sekolah satu minggu yang lalu. Saat ditemukan, tanaman itu sudah layu. Karena tak tega melihatnya, Nugi membawanya pulang dan menaruhnya ke dalam sebuah pot kecil berwarnya merah. setiap sore ia siram tanaman tersebut. Dan kini, tanaman yang ia selamatkan sudah terlihat lebih sehat. Daun hijaunya tampak lebih segar dari hari ke hari, juga kuncup bunganya semakin membesar, lebih besar berkali lipat dari lebar daunnya sendiri.

            “Aku tidak sabar melihat bungamu mekar sepenuhnya!” ucap Nugi seolah mengajak bicara tanaman di hadapannya.

            Entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja sesuatu melintas di dalam benak Nugi. Ia teringat neneknya suka merajut, pasti ada benang dan jarum jahit juga di sana. Ia pun bergegas pergi ke ruang tengah mencari kotak rajut milik neneknya. Lampu utama di ruang tengah sudah padam dan hanya menyisakan lampu meja yang menyala reman-remang. Itu pertanda bahwa neneknya sudah tidur. Nugi tidak berani berisik, takut membangunkan neneknya. Dengan hati-hati ia membuka setiap laci yang ada di ruang tengah tersebut.

            Setelah beberapa saat, akhirnya Nugi menemukan apa yang ia cari. Sebuah kotak yang dilapisi kain motif bunga. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin cukup untuk menampung 20 biji Macaron, camilan kesukaan Nugi. Saat dibuka, ada banyak benang jahit berbagai warna dan ukuran yang tersusun rapi, dan beberapa jarum dengan bentuk yang berbeda-beda tersemat di bagian tutup kotak. Nugi tidak mengerti kegunaannya setiap jarum tersebut. Tapi Nugi tahu bentuk jarum yang digunakan untuk menjahit baju robek, dimana salah satu ujungnya berbentuk runcing dan berlubang di ujung yang lainnya.

            Setelah menemukan apa yang ia butuhkan -jarum dan benang jahit- Nugi mengembalikan kotak tersebut ke tempat asalnya lalu kembali ke kamar.

            Nugi sebenarnya tidak bisa menjahit, tapi ia pernah melihat neneknya menjahit bajunya yang robek. Sepertinya menjahit bukan hal yang sulit untuk dilakukan anak usia 8 tahun.

***

            Sudah hampir satu jam Nugi mencoba memasukkan benang ke dalam lubang jarum, namun ia belum berhasil. Beberapa kali ia terlihat menguap lebar. Ia mulai mengantuk.

            “Oh tidak! Bagaimana ini, memasukkan benang saja aku tidak bisa. Kalau begini aku tidak akan bisa menjahit sepatuku,” gerutu Nugi disela-sela menguapnya. “Sepertinya aku membutuhkan kacamata nenek agar bisa memasukkan benang ini,” lanjutnya seraya keluar kamar mengambil kacamata nenek yang biasa di taruh di atas meja dekat lemari besar.

            Namun begitu kembali ke meja belajarnya. Betapa terkejutnya Nugi mendapati benang tersebut sudah terpasang di jarumnya. Berulang kali ia mengucek matanya memastikan apa yang ia lihat.

            “Loh, kok benangnya sudah masuk?” ucapnya terheran-heran. “Ah, mungkin gara-gara mengantuk jadinya aku tidak sadar jika benangnya sudah masuk dari tadi,” lanjutnya. Tak ingin ambil pusing, Nugi segera meletakkan kacamata nenek. Ia urung memakainya.

            Nugi melanjutkan kegiatan menjahitnya. Ia memotong benang sesuai panjang yang ia butuhkan dan membuat sampul di ujung benang agar saat dijahit, benang tidak lepas. Ini juga ia ketahui saat melihat nenek menjahit bajunya yang berlubang dulu. Tetapi selanjutnya, Nugi tidak yakin cara menjahit bagian sepatu yang robek itu benar atau salah. Ia hanya mengikuti instingnya, kira-kira seperti ini dan seperti itu.

***

            Menjahit ternyata tidak semudah yang Nugi bayangkan. Meski berhasil menutup lubang pada sepatunya -menyatukan sol dan sepatunya- tetapi jahitanya terlihat buruk sekali, tidak seperti jahitan nenek yang rapi. Benang jahitannya terlihat saling tumpang tindih berbeda-beda arah. Dan jika disandingkan sengan sepatu sebelahnya, ukurannya lebih kecil. 

            “Semoga teman-teman tidak menertawakan sepatuku besok,” ucap Nugi sambil memandang sepatunya kasihan.

            Nugi pun membereskan benang dan jarum jahitnya, lalu mematikan lampu di meja belajarnya, membiarkan sepatunya tergeletak di atas meja. Setelah itu ia merangkak ke atas ranjang, menarik selimut berwarna birunya sampai ke dada dan mulai memejamkan mata.

***

            Keesokan harinya, Nugi bangun sedikit kesiangan. Sebenarnya nenek sudah berkali-kali membangunkannya, namun ia kembali tidur lagi setelah dibangunkan. Karena itu, saat ini ia terburu-buru.  Jam di atas meja belajarnya menunjukkan pukul 06.45.

            “Oh tidak, kurang lima belas menit lagi!” Setelah selesai memakai seragam, Nugi segera menyambar sepasang sepatu di atas meja belajarnya, lalu memakainya dengan tergesa. Ia juga tidak memperhatikan jika kaus kaki yang ia pakai tinggi sebelah karena tidak terpasang dengan sempurna. Setelah itu, ia berlari keluar kamar, menghampiri neneknya di dapur lalu berpamitan. Nugi menyambar sepotong sandwich isi telur, sosis, dan mayonaise kesukaannya di atas meja makan.

            “Nugi, minum dulu susunya!” teriak nenek ketika melihat Nugi langsung kabur begitu saja setelah mengambil sepotong sandwich di atas piring.

            “Oh, iya Nek.” Nugi kembali lagi ke dapur lalu meminum susunya sampai habis dengan tergesa dan bergegas berangkat ke sekolah.

            Sesampainya di sekolah, Nugi segera meletakkan tasnya di kelas. Hari ini semua siswa mengenakan pakaian olahraga. Termasuk Nugi. Ia merasa begitu gugup. Sepatunya baru saja dijahit, ia takut akan robek lagi jika dipakai lari. Berulang kali ia memandangi sepatunya, hingga membuat teman di sampingnya juga ikut melihat kearah sepatunya.

            “Wow, Nugi sepatumu baru?”

            Nugi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan temannya. Ia pun memandangi sepatunya lagi, baru ia tersadar bahwa sepatunya berbeda dari semalam. “Di mana bekas jahitannya? Kenapa tidak ada?” batinnya.

            Nugi membolak-balik kakinya, memeriksa apakah ini benar sepatunya, sepatu yang ia jahit semalam. Tapi bagaimana bisa sepatunya jadi seperti baru begini? Ia terus saja bertanya-tanya dalam hati.

            “Hei! Ayo,” ajak teman Nugi.

***

            Sepulang sekolah, Nugi segera menemui neneknya dan menanyakan perihal sepatunya, apakah nenek yang telah menjahit ulang sepatunya. Namun nenek bilang tidak.

            “Benar? Bukan nenek yang menjahitnya?”

            “Iya, coba Nenek lihat sepatumu, mana yang katanya robek?!” tanya nenek balik.

            “Emm… itu… Oh, tidak Nek! tidak jadi robek.” Nugi segera berlari masuk ke dalam kamar, melepaskan semua perlengkapan sekolah dan menggantungnya di belakang pintu.

            Malam harinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Nugi belum tidur. Ia hanya berbaring di atas ranjang dan bersembunyi di balik selimut. Nugi memang sengaja tidak tidur. Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada sepatunya. Sore tadi ia mengotori sepatunya, berharap terjadi sesuatu dengan sepatunya. Lagi.

             Waktu terus berjalan, malam hampir berlalu separuh. Mati-matian Nugi menjaga kantuknya. Berkali-kali ia tertidur, lalu tersadar lagi. Begitu seterusnya hingga terdengar suara-suara gemeletuk aneh. Nugi mencoba mengintip dari balik selimut yang ia sibak sedikit. Di dalam keremangan kamarnya, ia melihat cahaya kecil berpendar di atas meja belajarnya. Tetapi itu cukup membuat seisi kamarnya sedikit lebih terang. Cahaya tersebut bergerak-gerak, kadang berputar, kadang ke atas, dan kadang ke bawah. Persis seperti cahaya kembang api yang biasa ia mainkan saat tahun baru.

            Rasa penasaran Nugi begitu besar. Perlahan ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan mengendap-ngendap ke arah saklar lampu kamarnya. Begitu lampu menyala, dua pasang mata yang ada di kamar itu kaget melihat satu sama lain.

            “Aaaaaa!!!” teriak kedua pasang mata itu bersamaan.

            Sementara Nugi berusaha menutup mulutnya agar teriakannya tidak semakin kencang, mahluk kecil bersayap yang baru saja ia lihat langsung bersembunyi di balik pot bunga di dekat jendela.

            “Kamu siapa?” tanya Nugi.

            Hening.

            Karena tidak mendapat jawaban, Nugi memberanikan diri mendekat kearah meja belajarnya, “Hei, kamu siapa?” tanyanya untuk yang kedua kalinya.

            “Aku peri bunga,” jawab mahluk kecil itu dengan suara ragu-ragu.

            “Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini di kamarku?”

            “Aku… aku… emmm… aku hanya ingin membantu memperbaiki sepatumu.” Perlahan mahluk kecil tersebut keluar dari tempat persembunyiannya.

            Mata Nugi berbinar tatkala memandang mahluk kecil di depannya. “Wow, apakah sayapmu ini asli?” Ia berusaha menyentuhkan telunjuk jarinya pada tubuh peri bunga.

            “Eh, jangan menyentuhnya! sayapku baru saja tumbuh, nanti bisa patah,” seru peri kecil berusaha menghindar, membuat Nugi menarik kembali tanganya yang sempat terulur.

            “Baiklah!” Nugi mendengus sebal. “Apa kamu saudaranya Tinker Bell?” lanjutnya seraya duduk di kursi meja belajarnya.

            “Siapa itu Tinker Bell?”

           “Ah… lupakan saja. Rumahmu di mana?”

           Peri kecil pun menunjuk ke arah bunga di dalam pot yang ada di belakangnya. 

         …

            Nugi menghabiskan separuh malamnya dengan Peri Bunga sampai ia tertidur di atas meja. Dan ketika terbangun, Nugi berpikir semalam ia bermimpi bertemu dengan mahluk kecil yang begitu cantik dengan sepasang sayap berwarna putih di punggungnya. Mimpi yang indah, batin Nugi. Tetapi begitu melihat sepatunya di atas meja sudah bersih, Nugi langsung menepuk-nepuk pipinya dan segera sadar, “Jadi yang semalam itu bukan mimpi?!”

           

           

Share This: