Z

Oleh: Muhammad Mahdi Montazerry (Siswa Kelas Menulis IWE)

            Sudah 3 hari wabah yang disebabkan virus asing melanda kota Metro. Banyak warga terserang penyakit aneh yang gejalanya mirip cacar. Sekujur tubuh mereka dipenuhi benjolan kecil kemerahan disertai demam tinggi. Akibatnya, sejumlah rumah sakit penuh sesak karena jumlah pasien yang dirawat terus bertambah. Sementara itu, belum ada vaksin yang bisa digunakan. Rumah sakit hanya mampu bertindak untuk menghambat infeksi yang diakibatkan oleh virus tersebut agar tidak semakin parah.

            Merebaknya wabah ini menjadi topik utama di berbagai media. Pagi ini, secara resmi pemerintah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan selalu menggunakan masker kemanapun mereka pergi. Pemerintah akan bekerja cepat menangani masalah ini. Namun disisi lain, masyarakat tetap merasa resah karena wabah ini menyebar sangat cepat.  Diperkirakan ratusan pasien terjangkit wabah ini hanya dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

            Ditengah-tengah kepanikan masyarakat inilah kemudian muncul sebuah perusahaan farmasi yang mengklaim obat baru yang mereka keluarkan mampu menyembuhkan pasien yang terjangkit, namun dijual dengan harga begitu mahal. Karena banyaknya masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak mampu menebus harga obat, hal ini menyebabkan timbulnya protes terhadap pemerintah.

            Suasana di kota Metro pun semakin tidak terkendali.

***

            Di ujung kota Metro berdiri sebuah bangunan yang digunakan sebagai laboratorium penelitian. Di dalam gedung itu terdapat beberapa ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam peralatan penelitian, seperti mikroskop, gelas ukur, botol reagen, dan lain sebagainya. Di salah satu ruangan di dalam gedung itu, ada seorang profesor berjas putih sedang melakukan penelitian, ia mencampurkan beberapa jenis cairan kedalam sebuah tabung kaca kecil lalu mengujinya mengunakan peralatan canggih yang ada di sana. Tak lama kemudian, datang dua orang berjas hitam mendekatinya.

            “Permisi Profesor, kami datang membawa pesan dari Presiden.”

            “Oh, kemari, silahkan duduk dulu,” ucap Profesor sambil berjalan menuju ruang pribadinya lalu mempersilahkan kedua orang tersebut untuk duduk di sofa yang terletak di depan meja kerjanya.

            “Kami datang membawa sebuah misi rahasia untuk Profesor,” ucap salah satu agen membuka pembicaraan.

            “Misi rahasia apa?” Profesor menegakkan posisi duduknya yang tadinya bersandar. Ia sedikit kaget mendengar penuturan para agen rahasia di depannya.

            “Presiden memberikan instruksi agar Profesor membuat antivirus untuk mengatasi wabah virus yang sedang merebak di kota Metro.”

            “Bukankah sudah ada antivirus yang beredar?”

            “Memang sudah ada, Prof. Tetapi harganya terlalu mahal. Negara tidak bisa menanggung subsidi untuk obat tersebut. Untuk itu Presiden ingin agar Profesor menciptakan antivirus agar bisa digunakan secara massal kepada masyarakat. Penelitian ini akan didanai sepenuhnya oleh pemerintah.”

            “Hmm…” Profesor berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran yang didapatnya. “Baiklah,” lanjutnya mengangguk setuju.

            “Kebetulan kami membawa sampel obat yang sudah beredar di masyarakat.” Salah satu agen menyerahkan sampel obatnya.

            Setelah para agen rahasia pergi, Profesor mulai meneliti sampel tersebut.  Setelah melewati beberapa tahapan penelitian, Profesor menemukan satu fakta mengejutkan bahwa kandungan dalam obat itu sedikit mencurigakan. Bertahun-tahun Ia bekerja sebagai profesor di laboratorium, tetapi Ia tidak pernah menemukan zat seperti ini. Profesor pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perusahaan farmasi yang baru muncul itu bisa membuat obat dengan senyawa yang belum pernah Ia temui, apalagi ini adalah virus baru, tentu bukan perkara mudah untuk menemukan antivirusnya.

            Profesor mencari tahu asal senyawa yang terkandung dalam obat tersebut. Ia mencari informasi dari berbagai jurnal yang ada. Ternyata senyawa yang Ia temukan pada sampel obat itu belum pernah digunakan di Indonesia, hanya dipakai oleh beberapa negara saja. Mengetahui hal ini, kecurigaan profesor pun bertambah besar, dan ia membutuhkan bantuan seseorang untuk menyelidikinya.

            Sore harinya, seorang detektif datang ke laboratorium atas permintaan sang profesor.

            “Jadi, apa yang bisa saya bantu, Prof?”

            “Saya ingin kamu menyelidiki perusahaan yang membuat obat ini,” ucap profesor seraya menunjukkan pembungkus obat yang ia terima dari agen rahasia.

            “Kenapa, Prof?” tanya detektif kebingungan.

            “Saya sudah melakukan penelitian terhadap sampel obat ini. Ada senyawa mencurigakan yang saya temukan di dalam obat ini. Senyawa yang belum pernah digunakan di Indonesia.” Berikutnya profesor pun menunjukkan bukti yang ada di dalam sebuah jurnal yang ia temukan mengenai senyawa tersebut. “Tolong kamu selidiki perusahaan pembuat obat ini,” lanjutnya.

            “Baik, Prof. Akan saya lakukan sesegera mungkin.”

             Keesokan harinya, detektif langsung memantau perusahaan obat yang dimaksud sang profesor. Ia mencoba mencari cara agar bisa masuk ke dalam perusahaan untuk mencari bukti tanpa diketahui pihak perusahaan. Setelah menemukan celah, ia segera pergi ke ruang staf perusahaan. Di sana, ia menemukan baju pegawai yang tergantung di belakang pintu. Setelah melakukan penyamaran, detektif pun keliling perusahaan untuk mencari informasi yang mungkin bisa ia dapatkan.

            Setelah berkeliling beberapa saat, detektif berpapasan dengan salah satu pegawai perusahaan lainnya yang terlihat sedikit aneh dari cara berjalannya. Tampak punggungnya sedikit bermasalah, sehingga menyebabkan jalannya tidak normal. Setelah beberapa saat saling bertatapan, detektif pun mengabaikannya dan melanjutkan penyelidikannya. Hingga sampailah ia di sebuah ruang laboratorium. Di sana, ia mencoba menyelidiki, tetapi tidak ada apapun yang mencurigakan.

***

            Diluar sana, wabah virus semakin merajalela. Kondisi masyarakat di kota Metro bertambah buruk dari waktu ke waktu. Jumlah korban pun terus bertambah. Ada beberapa penderita yang meninggal dunia. Sementara itu di tempat lain, profesor bekerja siang dan malam tanpa henti demi mendapatkan vaksin yang dibutuhkan masyarakat. Selama penelitian, ia mengalami banyak kendala. Beberapa kali uji coba yang ia lakukan mengalami kegagalan. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah.

            Setelah beberapa saat lamanya, perjuangan profesor pun membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan vaksin antivirus. Ia pun menghubungi orang-orang yang terlibat dalam proyek rahasia tersebut.

            “Akhirnya, saya berhasil membuat vaksin yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Profesor seraya menunjukkan hasil penemuannya penemuannya. “Hasil uji coba terakhir menunjukkan bahwa vaksin ini memiliki kemampuan menghancurkan virus Z dengan tingkat keberhasilan hingga 90%.”

            “Syukurlah, akhirnya kita menemukan solusi untuk wabah besar ini,” ucap salah seorang yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut. “Esok, panggil beberapa personil dari Departemen Kesehatan akan datang untuk mengambil vaksin dan langsung di distribusikan ke rumah sakit yang ada di seluruh kota.”

            “Tunggu sebentar, vaksin ini masih belum bisa langsung digunakan, mereka membutuhkan waktu pembekuan untuk memaksimalkan kerjanya.”

            “Kalau begitu kapan vaksin ini siap digunakan, Prof?” Tanya staf menteri kesehatan.

            “Sekitar dua atau tiga hari lagi.”

***

            Sehari setelah profesor menyerahkan secara resmi vaksin temuannya kepada pemerintah, dia mengirim pesan kepada detektif agar segera menemuinya malam itu. Ia mengatakan bahwa ada hal penting yang harus dia sampaikan secara langsung. Tetapi karena kelelahan, detektif tidak sempat membalasnya karena tertidur. Pagi harinya saat terbangun, detektif menerima pesan suara dari sang profesor yang dikirim pukul 12 semalam. Ia pun segera bersiap-siap dan menemui profesor. Tetapi di tengah perjalanan menuju laboratorium, detektif terjebak macet parah. Ia merasa tidak enak karena pasti semalam sudah membuat profesor menunggu. Tak lama kemudian, ponsel yang ia letakkan di samping kursi kemudinya berdering. Ia mendapat panggilan masuk dari salah satu personil polisi yang mengatakan bahwa pagi ini profesor ditemukan tergeletak di lantai laboratoriumnya dan sudah tidak bernyawa. Polisi juga menyatakan mereka sedang menunggu tim forensik untuk datang. Detektif pun kaget luar biasa dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

             Sesampainya di laboratorium, detektif langsung menuju TKP. Ia melihat ada banyak polisi dan kerumunan orang di belakang garis polisi yang melintang sepanjang lokasi kejadian. Detektif melihat profesor tergeletak dengan kondisi mulut berbusa dan bajunya setengah basah berkeringat. Tanpa membuang waktu, detektif langsung menggali informasi dari orang-orang di sekitar yang ada di lokasi kejadian. Ia pun mendapat informasi bahwa orang yang pertama menemukan profesor dalam kondisi tergeletak adalah cleaning service.

            Detektif memutuskan untuk mengikuti petugas medis yang membawa mayat profesor ke ruang autopsi di rumah sakit. Setelah menggali cukup banyak informasi mengenai kematian profesor, ia menyimpulkan bahwa ini adalah pembunuhan yang telah di rencanakan dengan sangat rapi. Namun bagaimanapun, ia masih harus menunggu konfirmasi dari kepolisian tentang penyebab kematian profesor.

***

            “Bagaimana?” tanya detektif kepada salah seorang polisi yang sudah selesai melakukan olah TKP.

            “Kami tidak menemukan bukti apapun pak, nampaknya pembunuhan ini sudah direncanakan dengan matang,”

            “Apa tidak ada sedikitpun barang bukti yang bisa kita jadikan petunjuk?”

            “Kami benar-benar tidak menemukan apa-apa, pak.”

            “Bemua pembunuh pasti meninggalkan jejak! Bagaimana mungkin tidak ada bukti sama sekali.”

            “Oh, sebentar. Sepertinya kami lupa memeriksa CCTV.”

            Tanpa membuang waktu, detektif dan polisi segera pergi ke ruang CCTV.  Karena menurut informasi profesor diperkirakan meninggal antara pukul 10 sampai 11 malam, detektif pun langsung memutar CCTV yang merekam kejadian antara pukul 10 sampai 11 malam. Rekaman di monitor memperlihatkan profesor sedang melakukan pekerjaannya. Namun sayang, CCTV yang ada di dalam ruang laboratorium tidak memperlihatkan seisi ruangan karena terhalangi rak tinggi. Tepat ketika rekaman CCTV menunjukkan pukul 22.30, profesor berpindah tempat ke belakang rak besar, sehingga aktivitasnya tidak bisa terekam. Dan tidak lama setelah itu, saat rekaman menunjukkan pukul 22:45, terlihat seorang cleaning service masuk ke dalam laboratorium lalu keluar dari laboratorium tiga menit kemudian. Detektif tidak melihat ada keanehan.

            Keesokan harinya, para polisi kembali mencari bukti di TKP. Tidak lama kemudian, detektif datang dan langsung menuju ruang CCTV, lalu memutar ulang rekaman CCTV antara pukul 9 sampai pukul 11 malam, waktu diperkirakannya profesor meninggal dunia. Berulang kali ia melihat rekaman yang sama, tetapi tidak ada kejaggalan yang bisa ia temukan. Kasus ini begitu rumit untu dipecahkan.

            Keesokan harinya, polisi menunjukkan hasil otopsi kematian profesor kepada detektif yang sedang berada di TKP. Di dalam laporan tersebut tertulis bahwa profesor meninggal akibat adanya senyawa asing yang masuk ke tubuhnya. Diduga senyawa itu disuntikkan secara paksa ke lengan profesor karena adanya lebam dan lukan bekas jarum yang cukup besar.

            Setelah membaca hasil autopsi, detektif semakin yakin bahwa pembunuhan ini memang sudah direncanakan secara matang. Ia pun segera pergi ke ruang CCTV lagi dan melihat rekaman pukul 12 malam. Detektif terus melihati ke layar monitor tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. Ketika rekaman menunjukkan pukul 00.37, terlihat seorang cleaning service masuk ke dalam laboratorium membawa minuman beralas nampan. Detektif baru menyadari adanya kejanggalan. Profesor diperkirakan meninggal antara pukul 10 sampai 11 malam, tapi seorang cleaning service mengantarkan minum ke laboratorium pada pukul 00.37. Ia pun melakukan penyelidikan lebih dalam lagi demi menemukan bukti yang bisa menguak pembunuhan ini.

***

            Belum menemukan titik terang kasus yang sedang ia tangani, detektif memutuskan untuk pulang setelah seharian berada di TKP. Sesampainya di rumah, detektif teringat bahwa malam saat pembunuhan itu, profesor pernah menghubunginya. Ia pun memeriksa ponselnya, dan benar dugaannya, ada satu pesan suara dari nomor profesor. Di dalam pesan suara itu profesor mengatakan ada seseorang yang membuntutinya. Profesor juga mengatakan orang itu berjalan dengan sedikit pincang. Ada masalah dangan kaki kirinya.

            Berulang kali detektif memutar pesan suara tersebut. Ia merasa sepertinya pernah melihat orang yang dimaksud profesor. Namun ia tidak benar-benar yakin siapa orang itu. Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja ia ingat pernah orang itu di pabrik obat saat menyelidiki vaksin. Tanpa pikir panjang detektif pun langsung mengambil jaket dan bergegas pergi ke laboratorium.

            Sesampainya di laboratorium, di sana sudah ada kepala polisi yang juga menangani kasus pembunuhan profesor. Detektif langsung menunjukkan pesan suara yang ia terima dari profesor.

            “Jadi, Anda tahu orangnya?” tanya ketua polisi kepada sang detektif.

            “Ya, Pak. Saya ingat pernah melihatnya di pabrik farmasi yang menjual obat untuk virus Z,” jawab detektif.

            “Sepertinya Anda harus lihat rekaman CCTV ini dulu, Detektif,” ucap kepala polisi sambil menunjukkan rekaman CCTV dari ponselnya. “Kurasa cleaning service yang Anda lihat ini bukan petugas sebenarnya. Karena ternyata setelah saya periksa CCTV loby gedung ini, petugas cleaning service yang sebenarnya sudah pulang sekitar pukul 21.00”

            “Lalu, siapa orang yang memakai baju cleaning service dan masuk dua kali ke laboratorium di jam 22:45 dan jam 24 tengah malam itu?”

            “Itu yang harus kita cari tahu.”

            “Itu berarti petugas cleaning servis itu hanya rekayasa untuk mengelabui kita?”   “Kurasa memang seperti itu”

            “Sepertinya kita harus segera menyelidiki pria itu.”

            Detektif dan ketua polisi mendatangi pabrik farmasi tersebut dengan menyamar. Di sana, Mereka mencari informasi tentang pria dengan kaki pincang.

“Oh, itu Irfan. Dia bekerja sebagai petugas cleaning service disini,” ujar salah seorang pegawai.

            Setelah mendapatkan informasi keberadaannya, detektif dan kepala polisi segera pergi ke kamar mandi pegawai, mencari tahu keberadaanya. Dan begitu menemukannya, detektif dan polisi pun langsung menginterogasinya di tempat. Kebetulan saat itu kamar mandi sedang kosong.

            “Apa betul kamu Irfan?” Detektif bertanya kepada petugas cleaning service bungkuk itu.

            “Ya, pak saya Irfan.

            “Anda pada pukul 12 malam berada dimana dan apa yang anda lakukan pada saat itu?”

            “Saya… emm… saya di rumah, Pak,” jawabnya dengan gugup.

            “Bisa tolong jelaskan ini?” Detektif menunjukkan rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang pria yang berjalan pincang memasuki gedung laboratorium lewat posnselnya. Namun, Irfan hanya diam.

            “Jawab saya!” teriak detektif dengan suara lantang sambil menggebrak kaca kamar mandi. “Kamu yang membunuh Profesor, bukan?” lanjutnya.

            “I… itu… Ya, itu memang saya.”

           “Kalau begitu, anda bisa saja terlibat dalam kasus pembunuhan Profesor. Siapa dalangnya?” tanya detektif tidak sabar, sementara orang yang ditanya hanya diam.

            “Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut,” ucap kepala polisi dan segera memborgol kedua tangan Irfan.

            Sesampainya di kantor polisi, Irfan diinterogasi oleh kepolisian. Namun, selama interogasi, Irfan bersikeras mengaku tidak tahu apa-apa. Hingga detektif meminta izin untuk masuk ke dalam ruang interogasi.

            “Jika anda tidak mau bekerjasama dengan kepolisian, dan menyembunyikan kebenaran yang anda ketahui, makan Anda akan kami jerat pasal berlapis. Saya pastikan anda akan menghabiskan sisa umur Anda di dalam sel tahanan.

            “Saya tidak bersalah, Pak. Saya hanya diminta oleh direktur untuk datang ke laboratorium malam itu, sekitar pukul 12. Jika saya mengaku, maka keluarga saya bisa terancam, Pak.”

            Detektif pun segera meminta pihak kepolisian untuk menyiapkan surat penahanan, dan segera menggeledah rumah pimpinan perusahaan farmasi tersebut.

            “Vaksin yang hendak didistribusikan kepada masyarakat ada di rumah direktur,” lanjut Irfan.

            Kepala polisi segera memberi pengarahan kepada para anggotanya sebelum penyergapan jangan sampai tersangka kabur, dan mereka juga harus menemukan keberadaan vaksin itu.

            “Permisi, kami membawa surat penangkapan terhadap direktur perusahaan farmasi OEM, saudara Agung wijayanto.”

            “Maaf Pak, Tuan sedang tidak ada di rumah,” ucap seorang wanita paruhbaya yang membukakan pintu.

            “Kami akan melakukan penggeledahan terlebih dahulu.”

***

            Setelah penangkapan itu, vaksin segera didistribusikan kepada masyarakat. Masyarakat merasa lega, setelah beberapa lama hidup dalam ketakutan akan wabah penyakit itu, akhirnya pemerintah memberi pengumuman resmi mengeni vaksin yang bisa mereka dapatkan secara gratis di rumah skait yang ditunjuk pemerintah. Wabah pun bisa dikendalikan berkat vaksin temuan profesor.

***

            Di ruang interogasi.

            “Bagaimana cara Anda membunuh Profesor?”

            “Sekitar pukul setengah sebelas saya memasuki laboratorium. Awalnya saya mengendap-endap, namun profesor menyadari keberadaan saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil suntikan berisi Sarin dari dalam saku dan menyuntik profesor dengan itu.”

            “Apa motif Anda membunuh Profesor? Apa anda terlibat dalam penyebaran virus Z?”

            “Virus Z adalah salah satu proyek perusahaan kami yang memang sengaja dibuat untuk meningkatkan penjualan vaksin.”

            Agung tersenyum tipis. “Profesor memang sudah saatnya mati karena dia memang sudah tua. Saya hanya membantu mempercepatnya saja.”

            Karena merasa kesal. Detektif ingin sekali meninju wajah orang yang telah membunuh profesor. Akan kupastikan kamu akan membusuk selamanya di penjara!

Share This: