Romansa Macan

by Puput Ertiandani

 

Diterbitkan Mei 2026

Disunting oleh Maylia E. Sutarto & Naurah Deatrisya
Novel memoar, 217 halaman
dalam Bahasa Indonesia
ISBN: [belum tersedia]

  • Sota tak pernah menyangka dirinya benar-benar mengalami apa yang dimaksud oleh pepatah, ‘habis jatuh tertimpa tangga’. Dunia seakan runtuh saat itu juga ketika kecelakaan pada suatu malam di bulan April merenggut salah satu kebahagiaan dan mimpinya.

    Di saat yang sama, sahabatnya, Petri, justru mendapatkan kesempatan mengepakkan sayapnya di karier yang justru selama ini diimpikannya. Peristiwa demi peristiwa menguji batas benang persahabatan mereka, membawa Sota dan Petri ke sebuah persimpangan—tempat pilihan harus dihadapi, dijalani, dan dipertanggungjawabkan.

    Seperti macan dalam perlombaan Kaisar Langit, perjalanan mereka menuntut kejujuran, keberanian, dan kesetiaan untuk menuju tujuan yang telah digariskan, meski harus melalui jalan yang terjal.

  • Kambing

    “Alkisah, Kaisar Langit mengadakan sebuah pertandingan untuk para binatang. Siapa yang berhasil menyeberangi sungai dan mencapai garis akhir akan menjadi pemenangnya. Kambing bukanlah yang tercepat di antara binatang yang terkuat, tetapi karena menumpang pada perahu naga, ia berhasil menyeberangi sungai. Dan pada akhirnya, Kambing termasuk dalam barisan pemenang dalam pertandingan.”

    ———

    Jalan raya Kota Angin tampak lengang dan gelap di tengah malam ini, menjelang pergantian hari di pertengahan bulan April. Sota mengendarai motor Honda Supra milik kakaknya dengan sedikit kencang malam ini. Embusan angin musim kemarau menerpa kaca helm hingga keras bergetar. Dia ingin segera mencapai rumah setelah menghabiskan malam minggunya bersama teman-teman perantauannya. Kebetulan, mereka berkunjung ke Kota Angin beberapa hari setelah Sota menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Sota sangat hapal jalanan kota kecil ini. Banyak hal tidak berubah sejak pertama kali dia pergi merantau ke kota yang memberikan banyak kenangan manis maupun pahit baginya.

    Sesaat sebelum Sota membelokkan motornya di pertigaan, mendadak sebuah motor melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Sepersekian detik, Sota sontak tersentak, membanting setir ke arah kiri. Dia mengambil keputusan untuk merisikokan segala kemungkinan terburuk dari peluang terbaik yang bisa diraihnya.

    CITTTT! DERRR, DERR, DERR! BRAKK! Tabrakan motor tetap tak terelakkan hingga masing-masing pengendaranya terlempar ke atas aspal. Warga sekitar para penjaga warung pinggir jalan yang sedang menikmati sunyinya Kota Angin, mendadak berlarian mengerubungi Sota dan si pengendara asing itu. Kedua motor yang terpisah dari penunggangnya tergeletak dalam kondisi ringsek tak karuan.

Next
Next

Strike X